Berbagi Takjil




Tanggal 18 kemarin, giliran kami yang berbagi takjil di musholla komplek. Saya dan Suami pun berbagi tugas. 

"Jadi, mau bagian apa?" tanya Suami yang siap dijadikan apa saja di pertempuran dapur nanti. 

Konon, dia sudah terbiasa membuat roti bakar di cafe pada zamannya. Ide takjil roti panggang pun dari dia. Karena itulah, saya enteng saja menjawab dengan enggak mikir. 

"Aku maunya bagian yang senang-senang saja. Mengoles selai, memarut keju, menghias, membungkus yang rapi dan cantik. Pokonya semua yang seru dan menyenangkan."

Ternyata dia ok-ok saja. Saya menang tanpa perlawanan. 

Jadilah sore itu saya yang merasa rumput tetangga lebih hijau, dengan semena-mena mengambil alih wajan teflon. Kelihatannya seru sekali. Tapi tidak lama. Karena ternyata, memanggang roti butuh kesabaran tinggi, ketelatenan, dan perhatian. Apalagi roti bakar saya hasilnya agak gosong. Segera posisi itu diambil alih oleh yang sesungguhnya berkuasa. 

"Gimana? Enak?" tanya saya ke ketua sekte enakvora.

"Enak sekali, Ibu. Lihat, terbukti, kan, kehebatannya Ayah!"


Lamongan, 20 Maret 2025.


Komentar

Postingan Populer