Para Penunggu


Setiap kamis pagi, saya selalu ada kegiatan penting di sekolah Alif. Piket. Harapannya, sih, supaya bisa mengajari anak bebersih kelas. Tapi nyatanya, para emak-emak yang lain keburu sat-set bersihin kelas sendiri sesuai jadwal piket anak-anaknya. Emak-emaknya piket, anak-anaknya main. Saya cuma bisa pasrah mengikuti aturan main mereka. Lagian enggak enak juga kalau mereka harus menyaksikan kolaborasi menyapu antara saya dan Alif yang sudah teruji sesat. 

Kamis itu, sejak pagi, saya berusaha dengan kecepatan tinggi menyelesaikan semua urusan sarapan dan persiapan sekolah Alif. Dari masak yang simpel-simpel aja sampai ngomel yang dikit-dikit aja. 

Dikit-dikit ngomel, dikit-dikit ngomel. 

Begitu semua sudah siap dan saya tinggal dandan, giliran Alif yang ngomel. 

"Apaaa? Ibu ikut ke sekolah?" pekiknya tak menyangka plot twist setiap kamis pagi. Kagetnya udah kayak keluarga pasien di Indosiar yang sedang menerima kabar dari dokter spesialis kematian. 

Alif mah enggak pernah sadar jadwal piketnya sendiri. Kadang juga dia enggak sadar kalau dia ketua kelasnya. 

Tanpa peduli dengan kekagetan Alif, si ayah menjawab santai dan singkat saja. "Iya."

"Haaahhhh! Pasti masih lama ini!" keluh Alif dengan nada kesal yang terang-terangan, tak sadar bahaya yang mengancam. 

Mengaumlah saya pagi itu. Sambil dandan, merepet-repet saya menyebutkan bagaimana seharusnya dia berperilaku agar seperti ayahnya saja, yang kalau lihat saya diajak pergi kok mau dandan, langsung ngambil bantal terus ketiduran di kursi. 

Gitu kan enak. 

Ayah Alif adalah contoh teladan perilaku efektif memanfaatkan keadaan yang sudah jelas tidak bisa diubah lagi. Dia tahu betul tidak ada gunanya menginterupsi apa lagi komplen. 

Maka sejak pagi itu, Alif tidak lagi mengomel setiap kali menunggu saya dandan. 

Buktinya, kali berikutnya, saat saya selesai dandan, terlihat ruang tamu sudah sepi. Tidak ada orang, tidak ada tas sekolah yang biasanya bersandar di kursi, lampu sudah dimatikan, gorden sudah ditutup, pintu sudah ditutup. 

Ternyata mereka ada di luar. 

Alif olahraga lari-lari keliling komplek.

Ayahnya mencabuti rumput di halaman. 

Efektif! 

😑

Lamongan, 2 Februari 2025.

Komentar

Postingan Populer