Modal Sunat 2


Bulan lalu, karena kebanyakan duit, Alif akhirnya checkout komik Doraemon ori edisi pertama di Shopee. Saya aja dulu baru bisa beli komik sendiri pas waktu sudah kerja. Soalnya selama ini uangnya selalu menyebar, merata, lancar mengalir tak terbendung ke toko-toko kelontong, warung es, dan mamang-mamang pedangan cilok dan mainan keliling.

Waktu buku orderan itu tiba di rumah, Alif bahagia luar biasa. Hidupnya benar-benar, selain bergelimang uang, juga bergelimang Doraemon. Dari sarung bantal, tas, meja belajar, boneka flanel, rautan pensil, baju, buku, poster daftar pelajaran, sampai kipas angin pun bentuknya Doraemon. Jadilah komik itu dibaca berulang-ulang, sepanjang hari, setiap hari sampai hapal isinya. Alif anteng tak bergerak dan tak berbunyi sama sekali.

Sampai tiba saatnya, dia menyadari punya ayah yang selalu dia elu-elukan kepintarannya setiap hari.

"Ayah, Ayah bisa ndak bikin komik seperti Doraemon punya Alif itu?" tantangannya.

Saking dia mengandalkan banget kepintaran ayahnya, pertanyaan kayak gini sama sekali enggak dia ajukan ke ibunya.

Ayahnya yang paling pantang berkata tidak bisa  pun merespon pertanyaan halu anaknya.

"Bisa saja. Gampang sekali itu. Apa saja itu mudah, tinggal dipelajari, sama punya waktu yang banyak buat mengerjakan. Tapi, Ayah, kan, harus kerja biar kita bisa makan, biar bisa bayar apa-apa."

Laju betul ngelesnya si bapak.

"Memangnya, kita butuh apa lagi? Makanan, ada. Jajan, ada. Minuman, juga ada. Beras, sepertinya masih ada. Listrik, juga ada. Cari uang buat apa lagi?" desak Alif, enteng.

Saya mau ngakak tapi kesel juga sama omongannya. Bisa-bisanya dia beranggapan kayak kita ini udah kaya banget. Padahal rumah juga ngontrak, listrik juga pakai yang token, masak juga gak pakai semburan api naga yang diternak seperti anak sendiri.

Tapi segatel-gatelnya pengen nyahutin, saya tetep berusaha tabah untuk tidak ikut campur. Bukan level saya untuk kericuhan serunyam itu. Biar ayahnya saja selalu pihak yang berwajib dan berperkara bersama anaknya.

Saya cukup menahan diri, antara mau ngakak tapi emosi, tapi gak kuat pengen ngakak, tapi juga emosi sama kesemena-menaan pemikiran anak sendiri.

Untung ayahnya spek customer service klinik Tong Fang, jadi obrolan tadi tetap berlanjut dengan sentosa.

"Ya kan besok-besok beras bisa habis, listrik juga, kontrakan juga tetap harus dibayar. Terus, yang bayar sekolahnya Alif, siapa? Belum beli bensin, beli kuota, beli sepatu kalau Alif naik kelas nanti. Juga, kalau Alif mau sunat kan butuh uang banyak, kan?"

"Oh, sunat itu bayar, ya, Ayah?" Alif gagal fokus.

Mungkin pikirnya, dia yang dipotong, kenapa dia juga yang harus bayar. Sunat adalah pengorbanan dan pesugihan.

"Iya, sunat itu bayarnya mahal. Apa lagi kalau mau yang ndak sakit."

"Berapa, Ayah?"

"Mungkin satu juta lebih."

"Alaaahhh, satu juta aja, kok. Gampang!"

Saya kaget dengar seruan Alif. Perasaan duitnya enggak sampai sejuta deh.

"Memangnya, Alif punya?" tanya si ayah.

"Kan, bisa dibayar pakai emas, kan? Satu gram, cukup ndak?" 

Saya semakin gak nyambung ini anak mau ke mana konteksnya. Tapi saya tetap diam demi keselamatan.

"Mungkin cukup," jawab ayahnya. "Memangnya, Alif punya emas?"

"Gampang sekali itu, Ayah!" Ngomong gampangnya sampai berdiri. Wajahnya berseri-seri, cerah, ceria, merona, bahagia. Tanda-tanda halu akut.

Saya heran. Ayahnya juga.

Sambil menggebu-gebu, Alif melanjutkan ide briliannya.

"Tinggal kumpulkan saja koin yang dari biskuit Roma Kelapa itu, kan kita sudah punya dua. Nanti, ya, Ayah, kalau sampai terkumpul koin yang ada tulisannya kalau digabung jadi 'Ro-Ma-Kelapa' bisa ditukar jadi emas satu gram!"

Allahu Akbar!

Saya yang sejak kata biskuit Roma tadi sudah menyembur-nyembur, langsung overload.

Ampun.

Sudah enggak bisa nahan diri lagi untuk enggak ngakak sampai guling-guling di ruang tamu, sampai lama, sampai ayah Alif malu sama tetangga.

Ya Allah.... Tolonggggggg!!!

🤣

Lamongan, 12 Februari 2025.

Komentar

Postingan Populer