Gagal Nego
Pagi ini, setelah satu jaman berlalu sejak Alif berangkat sekolah, saya mengajak Suami bicara serius. Dengan hati-hati, saya memanggilnya sambil mode senyum Miss Universe dengan kearifan lokal.
"Mas," panggil saya sambil mengelus lututnya.
Terus senyum.
Senyum lagi.
Senyum ulang.
Senyum ulang lagi.
Senyum terus sampai ditanya, "Apa?" pakai nada curiga.
"Enggak ada rencana pergi ke luar lagi, tah?" tanya saya mendayu-dayu.
"Pingin ke kafe?" tanyanya mengulang permintaan saya kemarin-kemarin.
Udah kayak malaikat pencatat amal perbuatan aja. Catatannya detail, lengkap, tak terlupakan, tak terhapuskan.
"Enggaaakkkkk!" elak saya cepat-cepat. "Pingin diantar ke toko buat beli jajan," sambung saya sambil nyengir.
"Beli jajan apa? Di mana?" tanya bapak-bapak perfeksionis yang segala sesuatunya selalu terencana dan terjadwal itu.
"Ya enggak tahu. Terserah nanti nemunya toko apa gitu, di mana gitu. Terus jajannya ya terserah apa yang ada di sana aja, lihat nanti," jawab saya yang jarang mikir dan serba dadakan tapi enggak suka kalau diajak ke mana-mana dadakan.
Di momen semacam ini saya merasa betapa kami ini serasi sekali. Sama-sama di kutub ekstrim dan punya anak yang ternyata juga bikin kutub sendiri yang enggak kalah ekstrim.
Kali ini, saya pasrah aja kalau misalkan enggak berhasil nego. Wong setengah iseng juga gara-gara stok cemilan sudah habis dan saya sudah lapar lagi padahal masih jam delapan. Biasanya full power nego juga jarang menangnya. Apa lagi ini, dadakan.
Anehnya, tanpa susah-susah nego, tanpa mikir, bapak-bapak satu itu ternyata langsung yes.
"Ya sudah, ayo, sekarang aja, berangkat!" ajaknya tiba-tiba.
Saya yang kaget, enggak siap mengkonter respon semacam itu.
"Loh, enggak mau aku kalau cuma aku yang beli jajan sendiri! Mas juga harus beli!" tolak saya yang masih pengen ngeyel tapi enggak tahu pakai jurus apa lagi.
"Ya sudah, tinggal beli, ayo!" ucapnya lancar banget.
Padahal kan saya masih pengen tawar-menawar dulu. Apa daya, akhirnya, saya dipaksa beli jajan. Terpaksa deh saya harus diantar ke luar dengan bahagia.
Sepuluh menit kemudian, saya keluar dari sebuah toko kelontong membawa pulang sekeresek jajan ciki-cikian.
😆😆😆
Lamongan, 11 Februari 2025.
Komentar
Posting Komentar