Bisnis Baru



Makin hari, uang Alif makin banyak, meski sudah lama tidak berjualan lagi di sekolah karena dilarang sama ibunya. Di usia semuda ini, Alif sudah punya passive income yang rutin cair, padahal tidak punya bisnis sampingan apa lagi laut kaplingan.

Passive income tadi tidak lain adalah uang saku hariannya yang jarang dibelanjakan di sekolah kecuali hanya untuk tes produk yang sedang laris di pasaran sebagai referensi bisnisnya sendiri kelak. Belum lagi kalau berkunjung ke rumah Mbah Uti di dusun, apa lagi ada pamannya atau saudara lain yang pulang dari perantauan, balik-balik Alif langsung kaya.

Semua uang itu, yang nominalnya sudah dua ratusan ribu, maunya dipegang sendiri. Dipaksa untuk nabung di sekolah susahnya bukan main. Menabung membuat dia merasa uangnya jadi berkurang, padahal hanya pindah tempat penyimpanan aja.

"Kenapa, sih, Nak? Kan nabung itu nanti uangnya diambil Alif sendiri! Gak diambil siapa-siapa. Malah lebih aman," jelas saya kayak pegawai bank lagi maksa-maksa calon nasabah.

"Tapi, kan, lama, Ibu. Harus nunggu naik kelas dulu baru bisa diambil." Dia tak terima.

"Ya ndak pa-pa, toh. Kan enak, nanti uangnya jadi banyak. Alif mau buat apa pegang uang banyak-banyak?" desak saya.

Bukan apa-apa, selama ini kalau pegang uang banyak dikit, dia bawaannya pengen bawa segepok lembaran dua ribuan ke sekolah untuk dibagi-bagikan ke teman-temannya. Persis orang mau nyaleg.

Tapi ternyata kecurigaan saya meleset jauh.

"Maunya Alif itu, ya, Ibu, ya disimpan aja uangnya sampai banyak sekali." Dia menjelaskan kayak motivator yang sukses berkat dukungan bapaknya yang kaya raya, tapi ngotot bilang bahwa dia memulai semuanya dari nol.

"Kan, enak, kalau nanti Ayah apa Ibu mau pinjam uangnya Alif, tinggal ambil," sambungnya beralih dari anak taipan, menjadi owner koperasi simpan pinjam.

Saya ngakak sampai mau nangis. Tidak menyangka anak sendiri menjelma menjadi bank emok tanpa bunga, yang kalau saya pinjam duitnya, berarti saya hidup seatap sama debt collectornya langsung. Apa gak ngeri.

"Ibu, berarti Ibu kemarin pinjam uang Alif berapa?"

"Ibu, kira-kira kapan mau bayar uang pinjamannya?"

"Ibu, kalau sudah punya uang, langsung dibayar ya!"

"Ibu, kapan Ibu punya uangnya, kan, Ibu ndak kerja?"

"Makanya, Ibu, kalau punya uang itu, diambil sedikit untuk disimpan, jangan dihabis-habiskan!"

😆😆😆

Lamongan, 12 Februari 2025.

Komentar

Postingan Populer