Soal Matematika


Sore yang tenang di rumah sederhana kami kala itu. Saya sibuk bersantai, ayah Alif sibuk bekerja, Alif sibuk mengerjakan PR. Sudah kelihatan siapa yang paling tidak berkualitas di sini?

Yak betul sekali. Kucing tetangga. Sudah beberapa kali memaksa masuk sehingga membuat saya jadi pemeran antagonis dalam drama ikan terbang. Padahal selalunya saya adalah ibu peri baik hati shift pagi menjelang siang. Shift selain itu beda cerita lagi.

Apa pun itu, tidak ada yang merusak kebahagiaan saya sore itu saat melihat anak kesayangan sedang mengerjakan PR dengan bahagia. Iya, bahagia. Jangankan PR, sekelas ujian aja dia bahagia. Yang tinggal silang-silang itu. PR baginya hanyalah sekadar butiran debu.

Tapi butiran debu juga berbahaya kalau kebanyakan dan masuk ke hidung. Seperti kala Alif menyodorkan hasil kerja kerasnya kepada saya, minta koreksi, lalu minta tambah.

Perkara PR itu ternyata berbuntut panjang. Tidak hanya hari itu. Besoknya, dan besoknya lagi Alif memaksa saya untuk membuatkannya berderet-deret soal penjumlahan. Saya harus memutar otak membuatkannya banyak varian soal penjumlahan yang angkanya terbatas satu digit saja. Tujuh ditambah lima, misalnya.

Tapi saya gengsi. Pengalaman mengajar fiqih diniyah dan membuatkan sepuluh soal berbeda untuk dua puluhan murid dengan variasi tingkat kesulitan yang sama dan tiap anak beda soal, membuat saya tak sudi menolak tuntutan Alif.

Saya bisa!

Saya ibu cerdas!

Berkualitas!

Tapi saat Alif lagi dan lagi datang meminta soal, saya akhirnya pening juga.

"Ganti, ya, soal pengurangan aja, ya?" tawar saya sambil melambaikan tangan ke kamera.

"Alif tidak suka pengurangan!" Dia kekeuh seolah pengurangan ada hubungannya dengan duit yang berkurang.

Akhirnya, dengan segala kerendahan hati, saya membuatkannya seratus soal yang konsepnya seperti tabel penjumlahan.

1+1, 1+2, 1+3, 1+4, 1+5, dst....

2+1, 2+2, 2+3, dst....

Begitu terus sampai ketemu soal 10+10.

Selesai membuatkan itu, saya langsung merasa luar biasa bijak bestari dan layak dilestarikan.

Alif melongo melihat soal yang seperti tidak ada habisnya.

Lembar HVS-nya penuh sampai ke ujung-ujungnya.

Apa lagi yang kau minta, Bujang? Ibu sudah mengerahkan seluruh kecerdasan hingga tetes terakhir.

Lalu tiba saatnya saat soal itu selesai dan Alif minta buatkan lagi.

Saatnya jurus pamungkas: memanggil ayahnya.

Tapi bapak-bapak satu itu enggak ada cemas-cemasnya. Sambil enggak mikir, dengan entengnya dia berkata kepada anaknya:

"Alif, Alif bisa buat aja sendiri soal-soalnya. Terserah Alif. Yang banyak juga tidak apa-apa. Nanti Alif kerjakan, terus tinggal Ayah nilai. Oke?"

Anaknya pun tersenyum senang sampai mengembang kedua lubang hidungnya.

😑

Lamongan, 17 Januari 2025.

*beli buku kumpulan cerpen Tapestri dan Alif Family Diary #1  di Alif Official Store di Shopee

Komentar

Postingan Populer