Orderan Berbahaya
Dua hari yang lalu, ayah Alif mengabari bahwa kepala sekolahnya Alif mau beli buku.
"Buku apa?" tanya saya santai. Barangkali Beliau mau beli buku Rifa'i Rif'an untuk bacaan sendiri.
Tapi ternyata saya salah. Bapak-bapak yang sudah saya peringatkan tempo hari itu ternyata kecantol Alif Family Diary #1. Buku yang tidak lain berisi kesesatan murid dan wali muridnya.
Padahal saya sudah warning betul-betul mengingat status Beliau sebagai pemimpin sekolah.
"Oh, cuma yang Diary? Gak yang Tapestri juga?" Kali ini saya berharap selain beli buku kesesatan, Beliau juga beli buku yang agak lurus. Minimal biar bisa kembali ke jalan yang lurus.
Tapi apa mau dikata. Saya hanya bisa pasrah dan lepas tangan saat ayah Alif menjawab tidak. Risiko ditanggung pembeli pokoknya.
Jika biasanya saya terharu setiap ada yang order buku saya sendiri, kali ini saya cuma bisa ngakak so hard. Nanti kalau buku itu mulai kelihatan efek sampingnya, saya minggat dulu aja kayaknya.
"Pesan tiga buku," tambah ayah Alif di sela-sela saya tertawa.
Kali ini saya ngakak sampai berair mata. Dikit lagi menggelimpang.
"Memangnya buat apa banyak-banyak?" sampai tersendat-sendat saya bertanya.
Kayak satu aja gak cukup menyesatkan, malah beli tiga.
"Buat perpus."
Allahu akbar!
Enggak ketolong ini sudah. Saya ketawa sampai berguling-guling.
Serah dah, serah....
🤣
Lamongan, 11 Januari 2025.
Komentar
Posting Komentar