Anak Berbunyi


Setiap hari, tempat tinggal saya rasanya selalu seperti kantor dispendukcapil. Ramai, ricuh, melelahkan, memusingkan. Lengangnya hanya saat malam dan saat Alif sudah berangkat sekolah. Kecuali hari libur, karena setiap hari libur, bagi seorang ibu, adalah hari lembur.

Saat Alif sudah berangkat sekolah, ruangan tiba-tiba terasa agak luas, udara sejuk, sepi, damai, hening seperti pasar tutup. Saya langsung rebahan untuk memulihkan tenaga dan kewarasan. Benar-benar anak satu rasa lima.

Di jam-jam semacam ini, waktu harus dimanfaatkan dengan baik.

Jika mau menyapu, ya menyapulah, sebelum ada yang ikutan menyapu dengan gaya mayoret keluaran Shaolin, sebelum ada yang melesat-lesat mengiringi alur kemana sampah berhembus.

Jika mau masak, ya memasaklah, sebelum ada yang menanyai kenapa bawang ungu disebut bawang merah, sebelum ada yang ngotot minta telur untuk dierami sendiri.

Jika mau mencuci, ya mencucilah, sebelum ada yang sedikit-sedikit datang untuk bertanya seputar tata surya atau isi lautan, padahal di sampingnya ada ayahnya yang setiap hari dia puji cerdas, sakti, dan lebih pintar dari presiden.

Jika mau menyetrika, ya menyetrikalah, sebelum ada yang tiba-tiba bikin ambruk tumpukan pakaian yang sudah disetrika, lalu mengajukan diri untuk menyetrika.

Jika mau menulis, ya menulislah, sebelum ada yang mencari perhatian dengan menanyai untuk apa Ibu menulis lha wong enggak dapat uang.

Karena nanti saat Alif pulang, dia akan menjelma menjadi duet maut antara Masha dan Rabbid, sementara saya hanyalah The Bear tapi dengan tingkat kesabaran Kak Ros. Mengaum saja jadinya.

Alif akan berbunyi dan terus berbunyi. Kalau sedang senang tapi tidak tahu harus ngapain, dia akan bernyanyi soundtrack Ultraman versi bahasa Jepang yang orang Jepang sendiri tidak akan paham.

Kalau sedang melepas pakaian atau apa saja dan dia kesulitan, dia akan berbunyi seperti ibu-ibu ngeden di ruang bersalin.

Kalau sedang makan, dia akan berbunyi seperti tokoh-tokoh kartun kalau sedang makan. "Awp.... Awp.... Awp...," ucapnya dengan sengaja setiap kali melahap.

Kalau sedang bermain, dia akan menjelma menjadi opera live action. Adegannya tawuran semua.

Kalau sedang membaca ensiklopedia, dia akan seketika berubah menjadi Najwa Shihab lagi nanyain Judol ke Patrick Kluivert.

Iya, saya Patrick Kluivert-nya.

Kalau sedang tidak bersuara, nah, ini baru bahaya. Itu berarti dia...

kemarin, sih, kebetulan lagi makan sarung bantal.

😑

Lamongan, 14 Januari 2025.

Komentar

Postingan Populer