Risiko
Selasa lalu, saya ke sekolah untuk mengantar buku yang dipesan wali kelasnya Alif. Beberapa kelas sedang direnov sehingga tidak ada tempat untuk saya duduk di luar menunggu jemputan. Saya akhirnya duduk di tangga menuju kelas atas, berharap tidak kelihatan siapa-siapa bahwa saya pengangguran gabut yang sedang nongkrong tak jelas.
Tapi ternyata saya ketahuan. Bu Guru menemukan saya sambil wajahnya penuh rasa kasihan. Saya langsung merasa jadi tuna wisma yang tidak dipelihara oleh negara.
Akhirnya saya dipaksa, diangkut ke dinas sosial, eh, maksudnya kantor. Bu Guru mempersilakan menuju sebuah ruangan dengan banyak kursi. Sebelum ke situ, saya melewati kursi tamu tempat kepala sekolah sedang duduk membalik-balik buku.
Lalu saya disapa.
"Monggo, Bu, silakan." Tangan Beliau mengarahkan ke ruangan sebelah. "Ini saya sedang baca-baca buku Njenengan."
Wew.
Saya langsung melongo. Lalu gemetar. Cepat-cepat saya luncurkan disclaimer sebelum fatal.
"Tapi, pak, itu buku menyesatkan," ucap saya lirih.
Pak Kepsek yang bundar chibi-chibi (itu tagline Beliau sendiri sebagaimana tertera di brosur sekolah) itu hanya mengangguk datar. Entah beneran dengar warning dari saya atau tidak.
Melihat itu, saya hanya bisa berjalan gontai menuju ruang sebelah.
Gimana ini.
Beliau kepala sekolah. Satu sekolah berrisiko tersesat berjemaah.
💆
Lamongan, 22 Desember 2024.
Komentar
Posting Komentar