Mengembang


Habis maghrib tadi, saya bercermin sambil sedikit merana. Agak sulit rasanya menerima bahwa berat badan saya sudah mencapai lima puluh empat. Padahal ekspektasi paling mentok empat puluh lima. Pipi kayaknya udah mulai nyaingin bakpao keliling tiga ribu lima ratusan. Tirusnya cuma pas pakai kerudung doang. 

Padahal dulu, rekor terberat saya hanya di angka lima puluh satu. Itu pun kondisi hamil sekitar tujuh bulan. Lah ini, enggak hamil bisa segitu. Seenggaknya kalau hamil kan ada yang dilahirkan untuk menurunkan timbangan. Ini mah belum ketemu apa yang mau dikeluarin. 

Sambil memelas, saya bertanya kepada konsultan fashion saya yang kejujurannya dramatis. 

"Alif, Ibu lebih gemuk ya sekarang?" tanya saya penuh harap. Berharap dibohongi. 

"Emmm, Alif lihat-lihat, iya, sih," jawabnya enteng. Dia masih belum tahu caranya bertahan hidup. 

"Nahh, kannnn. Pipinya Ibu tambah besar kan? Haaahhh, gimana ini!?" Saya makin meradang. 

Tolong bohongi saya.... Tolooonggg.... 

"Memang kenapa sih, Ibu, kalau tambah gemuk?" celetuknya yang seumur-umur belum pernah gemuk. 

"Ya nanti baju-bajunya Ibu ndak cukuuup, terus jadi ndak cantikk."

Seharusnya ini alarm bagi Alif untuk berhenti mencekoki saya dengan kenyataan. Tapi Alif malah.... 

"Memangnya kalau cantik biar apa sih, Ibu? Biar dibilang bagus? Biar orang lain iri? Biar dibanding-bandingkan?"

😑

Lamongan, 25 Desember 2024.

Komentar

Postingan Populer