Panggilan Teman
Di usia dini ini, Alif sudah mulai menunjukkan gaya hidup khas laki-laki. Dia bisa dengan mudah nimbrung, main, seru banget, ketawa-ketawa, padahal enggak kenal.
"Alif, teman tadi namanya siapa?" tanya saya ngetes saat dia baru selesai bercerita tentang temannya.
"Emm... ndak tau," jawabnya santai.
"Ndak tahu? Ndak kenal?"
"Ya kenal-lah, Ibu. Alif cuma ndak tahu namanya."
Saya diam dulu sejenak. Instropeksi.
Alif yang salah, saya yang sadar diri.
"Ya masa main bareng sampai lama, hampir setiap hari, tapi ndak tahu namanya. Lha terus kalau manggil gimana?" Saya mulai senewen.
Alif berdecak sok kesal. Kayak saya yang kurang mikir, padahal dia aja yang rada lain.
"Ya gampang, Ibu. Seperti Ibu itu lho kalau ngomong sama emak-emak di sekolah. Manggilnya kan 'Mama Safa!', 'Mama Rasyid!'. Gitu kan? Ya Alif juga." Dia merepet.
"Emang Alif gimana?" Saya meremehkan.
"Alif tinggal panggil saja nama ayahnya. 'Hey, anaknya Pak Jumali! Anaknya Pak Jumali!"
Saya melongo.
Sudahlah panggilannya gak lumrah...
Eh ternyata Pak Jumali enggak punya anak kecil.
😑
Lamongan, 18 November 2024.
Komentar
Posting Komentar