Iqomah



Dua bulan terakhir, Alif mendadak jadi tukang iqomah di musholla komplek. Kadang juga disuruh puji-pujian dulu selepas azan sambil menunggu jemaah solat datang. 

Saya bersyukur. Akhirnya toa masjid menemukan jodohnya. 

Sehari, dua hari, aman. 

Seminggu, dua minggu, tiga minggu, masih aman. 

Selanjutnya, dia berhasil membuat bapak-bapak sekomplek, dari yang muda sampai yang tua, berlarian menuju musholla. 

Ternyata, semua gara-gara alarm penanda waktu iqomah yang otomatis menyala di masjid. 

Jadi, selama ini, Alif yang suka mengamati sekitar, menyadari bahwa dia akan disuruh iqomah setiap kami alarm settingan di masjid berbunyi. Biasanya, Pak Jumali, lelaki paling sepuh di komplek sini, dengan senang hati mempersilakan anak tujuh tahun itu untuk iqomah. 

Sayangnya, waktu itu masjid sedang sepi. Sholat Isya biasanya memang sedikit diundur agar warga lain yang kebanyakan baru melepas lelah sepulang kerja dapat ikut berjemaah. Hanya ada Pak Jumali yang sedang sholat qobliyah. Sementara ayah Alif sedang wudhu, meninggalkan anaknya yang menggebu-gebu menjadi tukang iqomah baru. 

Lalu di situasi lengang itulah alarm berbunyi. 

Alif langsung mengambil mic dan beriqomah. 

Tanpa adanya imam. 

Tanpa adanya makmum. 

Pak Jumali yang belum selesai sholat, mungkin berdebar mengingat tidak ada orang lian selain Beliau dan bocah ketua sekte itu. Apa lagi selama ini Beliau tidak pernah bersedia menjadi imam. Buru-buru Beliau menyelesaikan sholatnya demi menyelamatkan keadaan. 

Tapi terlambat. 

Saat sholat Beliau selesai, iqomah pun selesai. 

Alif melenggang penuh kebanggaan bahwa dia sudah selesai iqomah dengan gagah berani tanpa disuruh dulu. 

Sementara wajah Pak Jumali pucat pasi. Beliau berjalan keluar, melihat para warga berlarian dari jauh karena merasa ketinggalan. 

Dengan pasrah, Pak Jumali menyambut semua orang sambil mengklarifikasi, "Bukan saya... Bukan saya...."

🏃‍♀🏃‍♀🏃‍♀

Lamongan, 25 Oktober 2024. 

Komentar

Postingan Populer