Gaya Menulis Alif
Gaya pendidikan jaman sekarang ternyata memang jauh banget dari gaya pendidikan jaman saya dulu. Saya dulu sewaktu kelas satu SD, pelajarannya masih seputar mengenal huruf dan angka. Tugasnya palingan cuma menulis huruf yang sama sampai sehalaman penuh buku kotak. Yang lulusan TK bisa dihitung jari, jadi bukan hal aneh kalau ada murid baru yang bahkan belum bisa memegang pensil dengan benar.
Tapi biar begitu, itu masa yang luar biasa. Dunia anak belum terjajah oleh ponsel. Kalau bukan yang kaya raya banget, enggak akan ada yang punya hp, itu pun orang tuanya saja. Di masa itu, anak-anak mainnya karet, bekel, kelereng, bola, layangan, dedaunan, dan pasir di halaman. Dekat dengan alam. Saking dekatnya, wajar dong kalau saya sampai nyicipin rasa otentik dari tanah di bawah pohon jambu.
Sementara era Alif ini sungguh menggugah emosi. Jadilah dia saya biarkan belajar semau-maunya. Utamakan bermain dan bahagia. Lagian, mau bilang apa saya ke anak tujuh tahun yang tontonan favoritnya baru sekelas Rabbid's Invasion yang dialognya cuma pua-pua-pua-pua tapi PR-nya sudah disuruh memberikan contoh pengamalan pancasila sila kedua? Pancasilanya aja kadang dia re-shuffle sendiri. Itu pun nambah satu sila lagi.
Jangankan memaknai pancasila, sekadar tulisan dia sendiri aja saya sudah enggak paham dia ikut riwayat khot-nya siapa. Tulisan latin biasa yang dari kiri itu, hurufnya bisa dibuat dari kanan. Tertekan batin saya nontonnya.
Seumur-umur belum pernah saya lihat gaya menulis begitu. Sepanjang tiga puluh tahun perjalanan hidup, saya sudah pernah lihat tulisan yang ayam aja gak sudi dibilang kalau tulisan itu mirip cakarnya, tapi saya enggak pernah lihat tulisan macam tulisan kembarannya Mail ini.
Sulit menggambarkan kualitas tulisan Alif. Dibilang bagus enggak, dibilang jelek juga enggak.
Bayangin, gimana cara ngukur kualitasnya kalau dari sepuluh huruf yang dia tulis, ada dua yang dibuat ala grafiti yang bervolume gitu. Kan jomplang. Ada yang besar, ada yang kecil. Naik, turun.
Kalau enggak makrifat, agak susah baca tulisannya.
Alif sedikit diseleksia, makanya beberapa huruf bisa tiba-tiba hilang karena dianggap sudah bisa dipahami meski tanpa keberadaan huruf tersebut. Juga sudah biasa banget kalau ketemu huruf, saya harus memprediksi dulu ini kira-kira arahnya ke mana. Huruf b bisa jadi d, p bisa jadi q. Huruf yang mirip-mirip itu dengan mudahnya cosplay tukar peran satu sama lain. Jangankan yang mirip, yang udah paten macam huruf k aja bisa tiba-tiba bosen terus balik arah.
Itu baru arah huruf. Belum proses penulisan huruf.
Udah pernah ketemu anak yang kalau nulis huruf a, dia akan memulainya dari ekor huruf a itu dulu?
Dari ekor!
Huruf a bahkan enggak harus selalu ada ekornya.
Dan itu baru a!
Nah, kalau mau tahu huruf b sampai z, mending japri aja deh, terus kirim saldo GO-PAY atau Shopeepay, minimal lima puluh ribu per huruf berlaku kelipatan.
Soalnya dapat satu huruf saya harus healing dulu. Satu huruf lagi, healing lagi. Bisnis ini gak bikin saya kaya.
😏
Lamongan, 19 Oktober 2024.
Komentar
Posting Komentar