Pergi
Empat puluh tahun ternyata begitu cepat. Tahu-tahu aku sudah kehilangan banyak kesempatan sekaligus menerima banyak kepedihan. Meski begitu, waktu sepanjang itu nyatanya kulalui dengan mimpi yang itu-itu saja. Kalau bukan mimpi bersekolah, aku selalu bermimpi sedang lari dari kejaran Bapak. Tidak pernah ada Ibuk dalam mimpiku kecuali sekali. Dalam mimpi itu, Ibuk mati terkena tembakan.
Malam ini aku terbangun lagi di tengah malam. Anjing bisu peliharaanku ikut terbangun. Ia mendekat menujuku dari tempatnya tidur di dekat jendela. Aku menyambutnya dengan pelukan lalu membiarkannya berada di sisiku. Aku lelah. Mimpi dikejar Bapak memang selalu menguras tenaga. Aku harus segera istirahat. Besok harus bekerja lagi. Berangkat pagi, pulang sore. Duduk seharian sebagai penjahit di sebuah pabrik tekstil.
Dulu, Bapak selalu mengejek anak-anak kampung yang sekolah mahal-mahal lalu ujung-ujungnya bekerja di pabrik tekstil. Pabrik di seberang jalan yang bahkan lulusan SD pun diterima asal mau bekerja.
"Sekolah saja milih-milih. Kalau bukan yang favorit, tidak mau. Berangkat pagi pulang sore. Setiap hari ikut les. Ternyata sudah lulus kerjanya tetep di pabrik juga." Demikian Bapak berceramah kepadaku di antara kesibukannya melinting rokok di teras.
Jika melihatku sekarang, entah apa yang akan dilakukannya kepadaku. Mungkin memukuliku dengan apa pun yang dapat dijangkau tangan kekarnya seperti dulu.
Bayangan Bapak memukuliku selalu mengikuti ke mana pun aku pergi. Lima ratus kilometer lebih jauhnya aku melarikan diri, belasan tahun tak berinteraksi, dia masih menjadi ketakutan terbesarku.
Apa daya. Jauh-jauh mencari kerja, hanya pabrik ini yang menerimaku. Pabrik tekstil yang tidak jauh berbeda dari yang ada di kampung halaman. Karma Bapak menimpa juga.
Untuk ukuran perawan tua sepertiku, gaji berstandar UMR dari pabrik rasanya terlalu banyak. Kalau bukan demi anjing bisu yang kutemukan beberapa tahun lalu, mungkin hidupku telah lama kusudahi. Anjing malang yang sakit-sakitan dan butuh perawatan khusus itu membuatku merasa dibutuhkan dan sedikit berharga.
Setidaknya anjingku tak bersuara karena luka di lehernya yang nyaris membusuk saat dulu kutemukan. Tidak seperti Ibuk yang selalu bungkam setiap kali Bapak memukuliku. Tidak seperti Ibuk yang pandai mengadu kesalahan-kesalahan kecilku kepada Bapak, tapi mengubur kesalahan saudara laki-lakiku rapat-rapat. Makin lama hidup kujalani, makin aku merasa Ibuklah yang lebih tega dari pada Bapak. Ibuk yang membiarkanku kesakitan sendirian setiap kali habis dipukuli.
Padahal aku tidak senakal anak-anak lain di kampung. Aku hanya sesekali ingin melakukan apa yang teman-teman lakukan, membeli apa yang teman-teman beli, mencari jati diri yang tak pernah kutemukan hingga kini.
Ibukku yang pandai menjahit pakaian tetapi tidak mampu menjahit luka anaknya sendiri. Andai Ibuk melihatku sekarang. Aku yang sudah pandai menjahit juga seperti Ibuk, tapi tetap tidak mampu menjahit luka sendiri.
"Pulang, Nduk. Ibuk sakit memikirkanmu. Bapakmu menangis menyalahkan diri sendiri setiap malam." Pesan Ibuk melalui SMS bertahun-tahun yang lalu, yang tak pernah kubalas hingga kini.
Selain pandai bungkam, Ibuk ternyata juga pandai berbohong. Mungkin Ibuk tidak tahu SMS yang dikirimkan Bapak kepadaku.
"Anak kurang ajar. Dibesarkan dari kecil, bisanya cuma meraup muka orang tua dengan tahi. Terkutuk Kau, Anak Iblis!"
Maka kuputuskan untuk tidak pernah pulang. Tidak sampai saat pagi ini tiba dan aku terbangun bersama anjingku yang tidak lagi bisu. Anjingku mati. Aku jadi bingung harus sedih atau bahagia.
Mati. Andai semudah itu jika aku hanyalah seekor anjing bisu. Mati tinggal mati. Tidak membawa dosa, tidak juga pahala. Apa yang terjadi jika aku yang mati?
Lalu sepintas demi sepintas kenangan susul menyusul seperti ombak kecil di pantai. Kenangan saat Bapak memberiku teh hangat setiap kali menyesal telah memukuliku, kenangan saat Ibuk menjagaku semalaman ketika demam, kenangan saat keduanya berair mata ketika aku nyaris mati tenggelam karena terjatuh di sungai. Kenangan-kenangan itu lantas menggerakkan kakiku untuk melangkah menuju kampung halaman. Berharap kami dapat saling membasuh luka.
"Maaf." Hanya itu yang bisa kukatakan setibanya di rumah tempatku dibesarkan dulu.
Ibuk lalu membawaku masuk, menuntunku menuju Bapak di pembaringan. Kata Ibuk, Bapak terkena struk lima tahun terakhir.
Berikutnya, seperti yang selalu diajarkan Ibuk kepadaku saat masih kecil dulu, Ibuk menuntunku meminta maaf kepada Bapak.
"Anak harus selalu memohon ampun orang tua, Nduk. Ridho Allah ada pada ridho orang tua!"
Dengan mudah, Bapak memaafkanku. Yang mereka lakukan berikutnya, seperti yang senantiasa mereka lakukan padaku dulu setelah aku meminta maaf, adalah menasihatiku tentang bagaimana seharusnya seorang anak patuh dan berbakti pada orang tua, tentang penderitaan dan perjuangan mereka, tentang semua yang telah mereka berikan padaku, dan apa yang mereka harapkan dariku.
Aku hanya bisa menangis mendengarkan. Lama aku menunggu mereka selesai berbicara, menunggu barang kali tersirat sedikit kepekaan pada perasaanku selama ini. Sampai tiba saatnya mereka lelah bercerita, lalu hening. Tinggallah aku tertawa sumbang sambil menghapus air mataku sendiri.
Kurasa memang hanya begini saja akhirnya.
Aku berpamitan sembari mengarang berjuta alasan untuk pergi.
Segantang luka yang kubawa pulang, kubawa pergi lagi.
Probolinggo, 31 Desember 2023.
Komentar
Posting Komentar