Nilai Kebanggaan


"Ibu, Ibu marah ndak kalau Alif ndak dapat nilai seratus?" tanya Alif suatu sore. 

Sambil tersenyum bijak, kalem, dan elegan, saya menjawab, "Alif dapat nilai beraaaaappaa saja, Ibu akan tetap senang seperti biasa. Yang penting Alif sudah berusaha dan tidak nyontek."

"Kalau dapat nilai nol terus seperti Nobita, ndak pa-pa?" tanyanya sambil ngakak.

Saya yang tidak siap dengan pertanyaan ini, langsung nge-hang. 

"Yaa... yaa, ehm, gimana ya." Saya panik, takut salah ngomong dan harus menjilat ludah sendiri. 

"Nobita itu kan tiap haaari dimarahin ibuknya karena dapat nol terus." Alif merepet. Nobita yang dimarahin, Dia yang enggak Terima. 

"Yeee, itu kan karena memang Nobita malas, ndak mau belajar, maunya langsung pinter pakai alat-alatnya Doraemon. Makanya, apa Ibu bilang, Doraemon itu ndak bagus!" jelas saya berapi-api. 

"Berarti, kalau Alif dapat nol, Ibu marah seperti ibunya Nobita?" tanyanya mengklarifikasi. 

"Kalau Alif ndak berusaha, malas, ndak mau capek, ndak mau mikir kayak Nobita, ya marahlah."

"Oo, jadi, kalau Alif dapat nol tapi sudah berusaha, Ibu ndak akan marah?"

"Tidak dong. Kan, sudah berusaha. Dari pada dapat seratus tapi nyontek. Ibu dulu pernah kok, dapat nol karena malamnya ndak belajar sama sekali. Ibu ndak tahu kalau besoknya ulangan. Tapi tetep, Ibu ngumpulkan tugasnya meski ndak ada jawabannya. Gimana lagi, wong Ibu ndak ngerti sama sekali. Pelajarannya hafalan semua."

"Ibu malu, ndak? Nangis ndak?"

"Tidak. Ibu malah ngumpulkan duluan. Tapi terus nangis sendiri di luar karena sedih. Tapi itu lebih baik dari pada nilainya bagus, tapi dari nyontek. Ibu juga pernah waktu ujian lulus sekolah Aliyah, Ibu sudah pegang jawaban semua soal yang ada. Karena semua anak dikasih. Ibu bisa saja dapat nilai seratus, tapi Ibu ndak mau. Padahal soalnya suliiiiitt sekali. Ibu tetep mengerjakan sendiri. Karena Ibu tahu, nyontek itu bikin orang jadi ndak tahu diri, merasa pinter padahal sebenarnya tidak. Dibilang pinter sama orang padahal tidak."

Alif diam mendengarkan saya serius bercerita. Seperti sedikit bengong. Cerita sepanjang itu, entah dia paham apa enggak. Mungkin saya terlalu terbawa perasaan saat bercerita. 

Tapi kebaperan itu tidak berlangsung lama karena yang terjadi berikutnya membuat suasana emosional ini menjadi ambyar. 

"Tapi, Ibu, kalau dapat nol tapi nyontek, gimana?" 

💆

Lamongan, 30 September 2024.

Komentar

Postingan Populer