Hadiah Jalan Santai



Agustus lalu, di sekolah Alif diadakan jalan santai. Semua wali murid diminta hadir. Semua dapat kupon undian berhadiah. Senengnya lagi, semua pasti dapat hadiah! 

Saya dengan setelan template gamis dan wedges, dengan semangat ikut berjalan dari sekolah, kantor kecamatan, masuk gang-gang, lewat TK, gang lagi, sawah,  jalan besar, lalu kembali ke sekolah lagi. 

Luar binasa. I love wedges tapi ya gak gini juga. 

Ini kalau bareng Alif, bisa-bisa saya mabuk pertanyaan plus omelan sepanjang jalan. Untungnya anak-anak jalannya bareng anak-anak, emak-emak bareng emak-emak. 

Tadinya saya mau ngeluh atau minimal nyangkut di warung es terdekat, tapi obrolan bersama emak-emak di sebelah  bikin saya sungkan. 

"Enak begini, disuruh datang ke sekolah, senam, jalan-jalan. Kalau ndak ke sekolah begini ya sudah pasti aku nguli," ucapnya enteng diselingi tawa lepas. 

Saya tertawa ironis, membayangkan diri leyeh-leyeh bersama kopi pagi yang syahdu dan semilir angin dari kipas angin tercinta di rumah, sementara orang lain membayangkan dirinya jadi kuli sawah. 

Setibanya kembali di sekolah, saya dan semua peserta jalan santai duduk bersama di gelaran yang sudah tertata. Semua istirahat sembari menyimak panitia menyebutkan nomor undian. Kali ini saya duduk bersama Alif yang, setelah sekitar lima kupon keluar dan dia belum dapat,  mulai ngomel. Rasanya jadi pengen jalan santai lagi. 

Setelah sekitar satu jam berlalu, akhirnya kupon saya dan Alif keluar juga. Dengan riang, Alif menyambut hadiah dari Pak Guru. 

"Ayo, Ibu, dibuka hadiahnya!" pekiknya saat hadiah pertama diterima. 

Saya yang sama tidak sabarannya, langsung membedah bungkusan berwarna coklat berbentuk kotak itu. Ternyata isinya kerudung organza Umama hitam bertabur mutsin.

"Waaaahh!" Ekspresi saya. 

"Yaaaaah!" Ekspresi Alif. 

Saya yang tadinya mau euforia jadi enggak enak. Tapi itu tidaklah lama. Begitu hadiah kedua didapat, Alif heboh lagi. Hanya saja, ketika hadiah dibuka, dia seperti bingung mau berekspresi gimana. 

"Waahh!" serunya, tapi nadanya meleyot turun. 

Rupanya dia dapat satu pack besar berisi beberapa saset jajanan biskuit kentang yang bentuknya mirip Go Potato. 

"Eeenaaaaakk, Ibuuu dapat kerudung!" Dia enggak terima. 

Posisi kami masih di lapangan sekolah. 

"Haaa! Ibu, ini kan jajannya banyak, kan enak bisa buat jualan! Alif jual di sini ya, Ibu!?" usulnya sesat yang langsung saya bungkam. 

Mbok ya ganti. Perasaan dari dulu pilihannya kalau enggak ngamen, ngemis, mulung, ya jualan absurd. 

Akhirnya, hari itu, kami pulang sambil membawa selembar kerudung baru, satu pack jajan, dan seorang anak yang meronta-ronta ingin jualan. 

"Ya sudah, dijual di rumah saja. Nanti Ayah sama Ibu yang beli," ucap si ayah sambil ngeluarin duit. 

Kali berikutnya, giliran acara jalan santai di komplek tempat kami tinggal. Bedanya, kali itu saya enggak ikut karena sibuk membuat hanging door kelas dari kain flanel. 

"Hadiah utamanya apa, Mas?" tanya saya sambil menikmati sarapan yang terasa kepagian. 

"Sepertinya sepeda," jawab si ayah. 

"Hah? Sepeda motor, Ayah?" Alif ngelunjak. 

"Ya ndak mungkin!" Saya ngotot. "Paling sepeda anak, ya, Mas?" tambah saya sok tahu. 

"Alif ndak suka sepeda!" Lagi, Alif sok iyes. Kayak bakal dapat aja. 

"Bukan juga!" Si ayah klarifikasi. 

Saya diam sejenak, lalu ngotot lagi. "Terus, sepeda apa?"

"Ya sepeda biasa."

"Sepeda federal? Sepeda keranjang? Sepeda Ontel? Sepeda Jengki? Apa sepeda empat gigi seperti yang di Jogja dulu itu?" Ini saya, ya, bukan Alif. 

Ayah Alif pun hanya bisa menanggapi dengan diam. 

Karena tak ditanggapi, saya dan Alif pun bikin kesibukan sendiri. 

"Alif, kenapa Alif ndak mau dapat hadiah sepeda? Kan enak, bisa buat main sepedahan di depan?" 

"Ndak mau! Nanti jatuh."

"Hallaaaah, Ibu aja dulu pernah nyungsep di got gara-gara baru belajar naik sepeda, tidak apa-apa. Itu pun besoknya Ibu pinjam sepedah lagi," pamer saya tak tahu diri. 

"Hah? Iyatah, Ibu? Huahahahaha! Sepedanya siapa, Ibu? Terus, Ibu pulangnya gimana?"

"Sepedanya ibunya Nadia." Lanjut saya sekalian menjelaskan kronologi pergerakan gerilya bocil sembilan puluhan. 

"Tetep aja, Alif ndak mau. Wong kata ayah itu lho sepedanya orang besar."

"Ya ndak pa-pa. Kan bisa buat Ibu. Enak, kan, Ibu bisa beli apa-apa sendiri ke Alifmaret di depan sana. Ibu bisa sepedahan pagi-pagi biar sehat."

"Ya jadi Ibu kan yang enak. Bukan Alif. Ibu aja sudah dapat kerudung bagus. Alif maunya mobil remot."

"Ya sudah, nanti sepedanya dijual aja deh. Uangnya buat beli mainan, setuju?"

"Setuju!"

Akhirnya kami tenang dengan imajinasi yang memuaskan. 

Biar halu yang penting bahagia. 

Jam enam, bapak anak itu berangkat. Lima belas menit kemudian, Alif kembali membawa tiga kotak nasi sarapan jatah dari panitia. 

Beberapa jam kemudian, Alif pulang. Kali ini sambil membawa dua bungkus hadiah undian jalan santai. Besar dan berat. 

Hadiah pertama, ternyata mangkuk beling sebesar baskom. 

Wajah Alif mulai enggak enak. 

Harapan ada di hadiah kedua. Saya membukanya dengan harap-harap cemas. 

Lapisan pertama, kertas samson coklat biasa. 

Lapisan kedua, wah, sekotak kardus sepatu merk diadora. 

Lapisan ketiga ... Alhamdulilah ... yang paling membahagiakan....

botol plastik, dua batang sabun, sebungkus besar detergen, dan sebungkus besar pewangi dan pelembut pakaian. 

Rasanya saya jadi pengen gerilya lagi. 

🏃‍♀🏃‍♀🏃‍♀

Lamongan, 13 September 2024.

Komentar

Postingan Populer