Gara-Gara Vaksin


Sejak kemarin sampai pagi ini, saya dan Suami sibuk mencuci otak Alif biar mau divaksin di sekolah. Rasanya luar biasa. Ketika kemampuannya untuk bertanya berkolaborasi dengan penolakan, dikit lagi udah bisa deh saya jadi Duta Vaksin Indonesia. 

Tidak perlu dipertanyakan usaha apa saja yang sudah saya lakukan demi membuat anak satu rasa lima itu mau imunisasi. Dari sounding halus, sounding ambisius, sampai berubah jadi sound horeg. 

Saya sampai harus membuka kitab suci Upin & Ipin episode vaksin. Karena di situ sudah dijelaskan dengan gamblang segamblang-gamblangnya, dari penjelasan materi secara medis sampai metaforis. Itu pun efeknya gak bertahan lama. Beberapa jam kemudian, dia kumat lagi. 

"Ibu, jarumnya itu nanti tajam sekali, ya?" 

"Iya dong, biar ndak sakit."

Alif diam. Mungkin sedang berpikir kenapa yang tajam malah ndak sakit. Saya aja kaget sama omongan sendiri. 

"Ibu, katanya, biar ndak sakit, biasanya dibius ya?"

"Iya."

"Dibiusnya dengan cara disuntik?"

"I-iya, sih." 

Jangankan dia, saya aja kesel sama konsep ini. 

"Ibu, apa di sekolah yang lain juga disuntik?" tanya Alif yang enggak sudi susah sendirian. 

"Iya dong," jawab saya ngarang. 

"Se-Lamongan?"

"Iya!" Lagi, saya menjawab dengan yakin. Yakin ngarang. Nyusahin orang sekabupaten. 

"Se-Indonesia?"

"Seluruh dunia juga? Di negara lain?"

Itu baru pertanyaan soal mencari yang senasib sependeritaan. Masih ada banyak hal lainnya yang kami bahas  seperti soal virus, vaksin, dokter, sampai berapa kali pembuluh darah bisa melilit bumi, panjang mana pembuluh darah Alif dengan ayahnya, kalau sama Ibu bagaimana, kenapa, dan kok bisa. 

Itu pun habis mandi dan berseragam tadi dia kayak habis ke-reset. "Ibu, kenapa sih kok harus vaksin?"

Allahu akbar! 

💆💆💆

Lamongan, 4 September 2024.

Komentar

Postingan Populer