Dino yang Malang


Karena Alif sering banget nanya soal dinosaurus, akhirnya pas kami berkunjung ke perpus kota waktu itu, saya carikan dia buku anak yang membahas tentang dinosaurus. Demi memuaskan rasa ingin tahunya, saya rela sampai jongkok-jongkok menyisir rak-rak buku di ruang anak. Pokoknya kali ini saya mau jadi ibu pintar harapan bangsa. Apa pun yang dia tanyakan, saya akan cari di seluruh ruangan di gudang senjata itu.

Tapi sayang seribu sayang, di ruang anak, saya hanya menemukan satu buku ensiklopedia dinosaurus yang sudah sekarat karena lembarannya tinggal beberapa helaan napas saja dan satu lagi buku dinosaurus pemakan tumbuhan. Misi saya terancam. Meski begitu, saya tetap merasa harus menyampaikan pengetahuan itu kepada Alif dari pada membiarkan dia memporak-porandakan perosotan, ayunan, dan berbagai macam mainan edukatif yang tersedia di sana.

Sambil memainkan mainan edukatif secara tidak edukatif, Alif menyimak saya membaca buku dinosaurus pemakan tumbuhan itu.

"Nah, Alif, lihat nih, lucu, kan, dinosaurusnya. Namanya Ankylosaurus. Ada palunya di ekornya. Mungkin sebenarnya dia itu Thor," jelas saya penuh kesesatan yang disambut riang oleh Alif.

Sejak saya ngomong begitu, Alif akhirnya mencampakkan mainan edukatif yang dia salah gunakan.

"O, dinosaurusnya yang ini warnanya ungu, ya, Ibu?" Dia menunjuk gambar di buku.

"Bukan. Itu cuma gambar aja, biar lucu, biar bagus. Bukan sungguhan." Saya berusaha menyelamatkannya dari kepercayaan yang sesat. Pokoknya cuma saya yang boleh menyesatkan dia.

"Nah, yang ini besar sekali, Nak. Panjangnya tiga puluh meter! Wih, luar biasa. Tingginya nih ya, sepohon kelapa, tahu?"

"Pohon kelapanya yang masih kecil apa yang sudah besar, Ibu?" Lagi-lagi dia melenceng dari jalan yang lurus.

Saya mulai senewen.

"Yang... yang sudah tua, mungkin ya. Seperti yang ada di Malang  itu lho, Nak. Kan, tinggi sekali."

Kesabaran yang tadinya setebal dua lembar tisu, gak pake lama tinggal selembar.

Gara-gara buku itu selaaaaaalu menyebut soal ukuran dalam meter, pertanyaan Alif jadinya berulang-ulang semacam....

"Itu sebesar apa, Ibu?"
"Besar mana sama gedung?"
"Besar mana sama paus?"
"Telurnya seberapa, Ibu?"

"Kalau didadar jadi berapa RT, ya?" Yang satu ini saya. Ehm.

Begitu terus sampai di bab yang membahas Stegosaurus.

"Yang ini, namanya Stegosaurus. Otaknya kecil sekali, cuma sebesar buah kenari. Jadinya, ini dinosaurusnya ndak pinter, Nak. Ndak bisa mikir. Badannya besar, otaknya cuma keciiiilll sekali. Cuma segini." Saya memeragakan ukuran kenari dengan dua jari

Kami ngakak bareng, meski enggak bisa kenceng. Bukan apa-apa, tadinya sudah sempat didatangi petugas perpus sambil senyum-senyum ngefofoin saya dan Alif. Mungkin buat barang bukti.

Nah, gara-gara perkara otak itu, pertanyaan monoton Alif jadi nambah satu lagi.

"Kalau yang ini, otaknya seberapa, Ibu?" tanyanya di setiap pembahasan dinosaurus berikutnya.

Mana di buku yang dibahas otaknya cuma yang Stegosaurus doang. Dari manalah saya bakal tahu hasil sensus ukuran otak rakyat dinosaurus. Gini amat pingin jadi Ibu Pintar harapan bangsa.

Cukup lama kami di sana. Makin lama, makin jauh kami tersesat. Terutama saat kami membahas Memenchisaurus. Dinosaurus asal Tiongkok yang berleher paling panjang. Saya langsung ingin bertaubat.

Di saat saya sedang asik membacakan keterangan tentang Memenchisaurus, tiba-tiba terdengar suara azan padahal masih setengah sebelas.

"Allaaahu Akbar... Allaaahu Akbar.... "

Yang ternyata itu suara takbiran lebaran.

Lebih tepatnya lebaran Idul Adha.

Suara itu tidak lain berasal dari Alif yang sedang bertakbir sembari menggesek-gesekkan pisau mainan tepat pada leher Memenchisaurus yang malang.

💆

Lamongan, 30 September 2024.

Komentar

Postingan Populer