Cerita Alif



Seminggu ini, Alif sedang suka-sukanya mengarang. Lebih dari sekadar halu seperti rutinitas sehari-hari, kali ini Alif menuangkannya dalam bentuk tulisan satu-dua paragraf. Tulisannya digarisi dengan rap dan dipotong kotak sehingga terlihat seperti potongan artikel dari majalah atau koran. 

Cerpennya simpel. Tergolong fiksi mini dengan twist di luar nalar. Ngeselin sih lebih tepatnya. Berikut saya salinkan cerita Alif dengan sedikit penyuntingan sekadar agar lebih mudah dipahami. 

***

Cerita

 "Abin, kenapa senang?" Ibu tanya.
"Karena Abin mau dibelikan komik monster lucu, harganya tiga ribu, bukunya besar. Abin mau dibelikan dua, ya, Ma! Abin mau dua untuk Kanu, oke?"

~~~
"Ini, Kanu, buku komik monster lucu. Coba dibaca!"

"Ada monster baca buku, terus ada meteor. Monster kebentur meteor. Hahahaha." Kanu tertawa. "Monsternya pingsan! Hahaha"

Terima kasih, Teman.

***

Udah gitu aja. Monster mati. Happy ending. 

Alif membaca karangannya sendiri sambil tertawa-tawa. Ceritanya jadi belepotan karena sudah di-haha-in sebelum waktunya. Sementara saya terheran-heran, dari mana asalnya meteor tadi kok tiba-tiba ngepot ke kepala monster. Kemunculan meteor sungguh membuat cerita ini ngambang genrenya. 

Kali berikutnya, Alif membuat cerita bergambar. Tidak ada tulisan di sana, hanya semacam ilustrasi adegan. Dia bercerita langsung kepada saya seperti layaknya pendongeng.

Saya pun menyimak dengan antusias ... awalnya. 

"Nah, ini, Ibu, karena temannya nakal,  akhirnya yang ini terbang," jelasnya sambil ngikik. Soalnya tokoh protagonis yang dia ceritakan terbangnya modal dua bulu unggas sebesar daun pisang. Ataukah itu daun pisang dan bukannya bulu? Entahlah. Saya males nanya, kuatir memicu tawuran. 

"Terus, yang di bawah melihat temannya terbang. Wiiiihhhh, eenaaak. Terus yang di atas dadah-dadah. Ehh, tiba-tiba ada meteor, terus kenak kepalanya."

Sampai sini saya mulai oleng. Meteor lagi, meteor lagi.... 

"Terus, mencelat (terpental) deh yang ini, diketawain sama temannya yang di bawah, terus mati. Ada nyawanya keluar. Terus dikubur. Nah, yang di bawah ini, kan ketawa, terus akhirnya dia kena meteor juga. Hahahahaha."

Alif ngakak, saya istighfar. 

Bisa-bisanya dia menjadikan meteor sebagai solusi semua masalah dalam cerita-ceritanya. 

Tapi ya enggak salah juga, sih. Namanya aja anak kecil. Enggak ngerti apa-apa, tahunya cuma gampangnya aja. 

Lagian, udah ada satu lagi yang konsepnya begitu, yang apa pun masalah di negaranya, solusinya kalau enggak naikin gaji pejabat, ya makan siang gratis tujuh ribu lima ratus. 

Lamongan, 22 September 2024.


Komentar

Postingan Populer