Momen Bahagia
Beda anak, beda tingkahnya. Dua malam lalu, kedatangan sekeluarga saudara jauh. Mereka membawa dua anak perempuan, salah satunya masih seusia Alif.
Sayang datangnya agak malam. Alif sudah tidur sejak sehabis Isya sebab baterainya habis. Perlu segera di-charge agar besok paginya bisa full power. Coba kalau bangun. Pasar malam sama pentas agustusan kalah ricuh.
Nah, pada momen semacam ini, para emak berbagi pengalaman soal bagaimana kewibawaan mereka berkurang waktu demi waktu. Saya mah diem-diem bae. Wallahu a'lam wassalam dah soal wibawa.
"Ini, bu gurunya di sekolah ternyata temanku." Si ibu memulai cerita derita.
"Bu guru cerita, pernah Asa (nama si anak gadis yang sesusia Alif tadi) minta tisu ke bu guru itu. Karena kuatir dibuat mainan, bu guru tanya dulu buat apa minta tisu. Asa bilang 'Aku pilek, Bu'. Sama bu guru dilihat 'Kok hidungnya kering, kan. Ndak mbeler, ndak basah', jadi bu guru ya ndak percaya," lanjutnya.
Sampai sini saya belum punya bayangan bakal gimana endingnya. Si anak udah benar, bu guru juga benar. Dua orang benar dan baik kira-kira masa bisa bikin masalah? Kan enggak, normalnya.
Lalu cerita pun tiba pada akhir yang ditunggu-tunggu. "Karena bu guru ndak percaya, Asa langsung tarik napas terus buang ingus gitu aja di depan bu guru terus bilang, 'Nih, basah kan? Ada pileknya!' "
Kami pun tertawa bersama. Indah banget ternyata penderitaan orang....
😎
Probolinggo, 15 Agustus 2023.
Komentar
Posting Komentar