Interogasi
Setelah menerima kabar bahwa ternyata Alif dipilih jadi ketua kelas, saya interogasi-lah bocah tujuh tahun itu. Bisa-bisanya dia enggak cerita, padahal setiap hari yang diomongin ke saya banyaknya udah kayak serangan fajar.
"Alif, tadi katanya ibu-ibu di sekolah, Alif ternyata jadi ketua kelas, ya?" todong saya to the point.
Sambil kaget, Alif langsung mengelak tuduhan itu. "Enggak!"
Ekspresinya kayak enggak mau disalah-salahin. Persis kayak bocil viral di reel yang ngotot bilang 'bukan saya' ketika gurunya bertanya siapa presiden pertama Indonesia.
Tak menyerah, saya kekeuh ngeyel. "Iya kok! Wong ibunya Shafa kok yang bilang!"
Pasalnya, agak mustahil ketua paguyuban walmur itu ngomong ngawur.
"Iya, tah, Ibu? Beneran?" Kali ini dia yang ragu sama omongan sendiri.
Saya jadi curiga, jangan-jangan pemilihannya ini kayak kocokan arisan.
"Iya loh!" Lalu saya menjelaskan kronologi sebagaimana cerita ibu-ibu di sekolah tadi, seolah saya ikut menonton pas waktu kejadian perkara.
Jadi, pemilihan itu sebenarnya dibuat secara sadar oleh semua pihak yang terlibat. Termasuk Alif. Mungkin dia memang se-enggak-ngeh itu.
Dan benar saja, beberapa detik kemudian, pertanyaan Alif membuat kecurigaan saya jadi terang benderang.
"Memangnya, ketua kelas itu apa sih, Ibu?" tanyanya tanpa rasa bersalah.
Udah menjabat tapi enggak tahu tugasnya ini gimanalah konsepnya.
Saya cuma bisa istighfar sebelum bisa memikirkan jawaban yang pas buat dia.
Lha gimana, jangankan job desc ketua kelas...
Timbang tugas piket di kelas aja saya ikutan piket berangkat ke sekolah!
😑
Lamongan, 6 Agustus 2024.
Komentar
Posting Komentar