Cobaan Berdandan
Mungkin soal kericuhan seputar dandan, keluarga saya sulit dicari tandingannya.
Anak, misalnya. Yang kepo-lah ini buat apa itu buat apa. Belum lagi dia yang ngomel kalau saya dandannya lama. Dan yang paling heboh pas dia tahu bahwa peralatan perang sebanyak itu semua cuma demi mendandani muka.
Tidak lupa soundtrack yang dia nyanyikan tepat di depan telinga tiap kali mendapati saya pakai foundation.
"Haaaghaashikhooibeekhabi...."
Mengalunlah lagu indiahe dengan suara vokal yang seperti dikeluarkan dari hidung bukannya mulut.
Giliran sudah selesai, sudah merasa cantik, saya lapor via telepon ke si ayah yang waktu itu kami lagi LDR-an.
"Kalau ke ATM sekalian, bisa? Capek ndak? " tanyanya dengan hati-hati.
Jadi, hari itu agendanya saya mau rapat di TK. Sementara jarak ke ATM tergolong jauh untuk saya yang bisanya jalan kaki karena enggak bisa motoran. Mau ngojek juga aneh, masa ojek cuma dua ratus lima puluh meteran doang kan malu-maluin.
Tapi karena saya suka duit, dan ke ATM itu pun demi ngambil uang belanja, maka saya jawablah dengan riang gembira.
"Ooooo, tenaang, bisaa itu, bisaa. Apa lagi aku sudah dandan. Aku kalau sudah dandan, diajak ke mana aja maulah!"
"Oo, begitu." sahut Suami dengan nada ganjil. "Kok tidak seperti orang-orang ya?"
"Hah? Maksudnya? Siapa?" Saya mulai berasap.
"Iya, ada itu Agung, dia kalau lagi dandan-dandan pipa, ndak bisa diajak ke mana-mana. Ada lagi teman yang dandani kompor, dia kalau sendang dandan-dandan juga ndak mau ke mana-mana."
💆
Lamongan, 11 Agustus 2024.
Komentar
Posting Komentar