Belajar Tidur Sendiri
"Alif, sini! Tidur sini sama Ibu!" Saya memanggil anak yang sudah mulai pinter kabur-kaburan setiap dikelonin saat tidur siang itu.
"Alif mau tidur sendiri di sana aja, Ibu!" kilahnya, klasik.
Padahal semua juga tahu, tidur siang sendiri di tempat yang banyak mainannya itu berarti tidak mungkin tidur.
"Tidak bisa! Pokoknya kalau siang, Alif harus tidur sama Ibu!" Saya bikin peraturan baru.
Dikomplain dong.
"Kenapa?"
"Karena kalau ndak sama Ibu, Alif pasti ndak akan tidur."
"Terus, kenapa kalau malam Alif malah disuruh tidur sendiri? Alif kan maunya ditemani Ibu."
Duh, kritisnya.
Mana kesabaran tinggal setipis selembar tisu.
Tapi tetep gak boleh marah. Kan, sejak lama, saya yang kepingin punya anak yang nurut bukan karena patuh tapi karena mengerti. Jadi, satu-satunya solusi adalah menjelaskan.
"Naaak," panggil saya penuh kesabaran yang--setelah menarik napas sejenak--meningkat jadi setebal dua lembar tisu.
"Kalau siang, kan supaya Alif bisa tidur, harus Ibu jagain biar ndak main. Alif belum bisa menyadari kalau Alif sedang capek. Maunya main terus. Nah, kalau malam, Alif harus tidur sendiri supaya Alif belajar mandiri. Kan, sekarang sudah SD. Dalam Islam, anak kalau sudah tujuh tahun harus tidurnya ndak boleh bareng sama orang tuanya. Biar mandiri. Sudah mau jadi anak besar ini."
Aih, pandai luar biasa saya menjelaskan. Jelas, lengkap, kalem, elegan, syar'i. Sempurna.
"Tapi, Ibu... " Alif bersuara setelah beberapa detik keheningan yang indah.
Perasaan langsung enggak enak.
"Emmm, kenapa Ayah ndak tidur sendiri juga? Kan, Ayah sudah besar?"
😳
Lamongan, 11 Agustus 2024.
Komentar
Posting Komentar