Balon


Sehabis makan malam, Alif memainkan balon yang baru tadi sore dibelikan ayahnya. Seru banget mainnya. Kalah deh mobil-mobilan remot yang harganya seratus ribuan.

Pokoknya, soal mainan, paling nyenengin itu memang pas dia main perkakas yang murah-murah.

Kalau mainan mahal, dia beli dengan bahagia, dapat dengan bahagia, lalu mainnya juga bahagia. Giliran rusak atau hilang, yang sedih malah ibunya. Alif sendiri belum tentu sedih, karena kadang dia sendiri yang sengaja ngebongkar.

Nah, kalau mainannya perkakas murah atau bahkan bekas, pas beli semua bahagia, pas dapat juga semua bahagia, pas main jauh lebih bahagia, sampai pas rusak pun saya tetep gak berkurang bahagianya.

Jangankan beli, nemu aja itu anak bahagianya sampai bikin heran. Segitunya dia berbinar-binar pas ketemu karet, kardus, atau styrofoam di jalan.

"Waaahh!" serunya kayak baru nemu berlian padahal cuma karet buluk. "Ibu, kok, selaaaalu, di mana-mana Alif itu nemu kareeet terus."

Jadi, opsi mainan balon adalah yang paling aman dan netral sejauh ini dari berbagai sisi.

Lalu tibalah saatnya, saya yang lagi menikmati pemandangan Alif melompat-lompat bermain balon, mendadak didatangi oleh anak tujuh tahun itu.

"Ibu, kalau balonnya digigit nyamuk, bisa meletus ndak?"

😳

Lamongan, 9 Agustus 2024.

Komentar

Postingan Populer