Obrolan Bocil 2


Lagi-lagi, nasib mempertemukan saya kembali dengan obrolan bocil setengah matang.

"Aku, ya, pingin sekali punya adek. Enak, biar ada temannya," ucap bocil perempuan entah anak tetangga yang mana.

"Sama, aku juga pingin," sahut anak lainnya.

Sambung-menyambung anak-anak yang bukan anak saya menyebutkan keuntungan kalau mereka punya adek.

Sementara itu, Alif yang sudah punya berjilid-jilid cerita perihal impiannya untuk punya adik, terdengar tidak sepakat. Sudah lama dia tobat soal itu berkat melihat kelakuan balita anak tetangga.

"Aku ndak kepingin! Nanti, kalau punya adek, malah aku yang disuruh beresin mainan. Adeknya nangis, aku yang disalahkan." Alif mempengaruhi teman-temannya.

Mendengar itu, saya cuma bisa ngakak depan penggorengan.

Diskusi berlangsung damai meski ada pro dan kontra. Di momen itu, saya mulai memahami bahwa sedikit banyak mereka bisa mikir logis juga.

Sampai tibalah argumen terakhir dari satu-satunya anak yang kontra di situ.

"Eh, tapi ya, kalau punya adek, berarti ibunya harus dua, tahu!"

😳

Probolinggo, 5 Juni 2024.


Komentar

Postingan Populer