Kucing-kucingan Bahasa


Sewaktu Alif masih bayi, saya dan si ayah semangat mengajaknya bicara. Apa saja kami jadikan bahasan, apa saja kami tanyakan. Semua demi memancing kemampuan berbicara si bayi. Indahnya saat-saat saya selalu menang sepihak tanpa perlawanan.

Begitu mulai bisa bicara, Alif masih cenderung pendiam. Saya sampai mengira dia bakal jadi anak pendiam seperti ayahnya. Halu! Nyatanya sekarang difoto aja banyak ngeblur saking gesitnya.

Sekitar tiga tahunan, mulai deh. Tamat riwayat kemenangan sepihak saya. Alif menyerang habis-habisan dengan jutaan pertanyaan enggak masuk akal sampai detik cerita ini ditulis.

Tapi seenggaknya, dulu saya masih bisa kode-kodean sama ayahnya. Pokoknya gimana caranya supaya kami bisa kompak bertukar instruksi yang kalau Alif tahu, bisa gagal semua misi. Paling sering misinya untuk mandi.

Misalnya pas si ayah menginstruksikan saya biar segera mandiin anaknya.

"Ibu, Alif setelah ini segera dikondisikan, ya."

Sekali, dua kali, aman. Berikutnya, triknya sudah enggak mempan lagi karena....

"Alif tidak mau dikondisikaaaaaaaan!" teriaknya sambil berusaha kabur.

Jadilah saya dan si ayah pakai jurus baru.

"Mas, habis ini bantu anaknya biar segera em, a, en, de, i, ya!" Demikian kode saya sambil menyiapkan arena mandi Alif.

Iya, arena. Mau bilang wahana kok terasa kurang bar-bar.

Tapi kode itu sudah enggak berlaku lagi ketika Alif sudah mulai bisa mengeja. Maka dari itu, saya pakailah bahasa lain.

"Mas, Alif take a bath!"

Ini kalau pas sabar.

Kalau enggak ya langsung gusur aja kayak Kamtib.

Rencananya, sih, berhubung bahasa Inggris sudah mulai akrab di kalangan anak TK, saya mau ganti ke bahasa Arab aja. Nah, misal nanti Alif mulai bisa bahasa Arab juga, bisalah saya coba-coba bahasa Korea.

Tepi semangat saya seketika ambyar ketika dengar Alif menyampaikan tekadnya dengan membara.

"Ibu, pokoknya Alif nanti mau belajar semuuuuuuaaaa bahasa yang ada di dunia!"

😳

Probolinggo, 5 Juni 2024. 

Komentar

Postingan Populer