Hapee Teruuuus!
"Ibu ini Alif lihat-lihat kok hapeeeeee teruuuus!"
Sampai di sini saya mulai meragukan tahta ke-emak-emak-an saya. Padahal saya belum sempat merasakan indahnya sein kanan belok kiri, eh udah turun kasta aja.
Ya memang ketika Alif pulang sekolah, pulang main, atau sewaktu malam, seringnya saya ya gitu, main hape ... ehm, nulis, maksudnya.
Belum kelar, Alif pun melanjutkan, "Ibu itu sebenarnya ngapain sih di hape itu? Nulis? Nulis apa sih? Memangnya bisa dapat uang? Kalau mau dapat uang itu ya kerja, Ibu."
Yak, saya turun kasta lagi jadi pengangguran.
Risiko punya anak mulutnya lincah. Enggak sekali dua kali itu dia ngomong begitu. Dijelasin juga tetep enggak paham, wong saya sendiri juga enggak paham, soalnya omongannya dikatakan salah juga tidak benar.
Akhirnya saya hanya bisa sabar dan tawakkal. Siapa tahu jadi ada yang nambahin saldo di rekening meski sekadar lima juta aja enggak pa-pa deh. Saya ikhlas. Nanti saya pamerin deh ke Alif.
Berikutnya, sebagai kompensasi karena saya dianggap main hapeee teroos, jadilah anak satu itu saya biarin nimbrung setiap kali dia gabut mergokin saya main hape.
Jadinya kami main hape bareng-bareng. Kadang nulis, kadang scroll beranda bacain meme fanbase Harry Potter, kadang scroll reels yang isinya kebanyakan cuplikan guyonan serial komedi TV The Big Bang Theory.
Tapi bukannya tentram, saya malah makin pusing. Soalnya setiap kali saya ngakak, selalu berujung tuntutan penjelasan kenapa saya ngakak. Ya kali saya harus ngejelasin guyonan teori fisika yang saya sendiri setengah nyambung. Paling ringan, setidak-tidaknya saya harus mereka ulang dialog bahasa inggris ke dalam versi bahasa Indonesia. Ujung-ujungnya tetep dia enggak paham karena belum sampai.
Maka dari itu, untuk menghindari kericuhan lebih lanjut, saya enggak lagi ngajak-ngajak Alif, bergeser agak jauhan, dan ngasih dia kesibukan baru dengan kertas dan solasi. Hp enggak saya hadapkan ke arah yang bisa dia pantau. Volume saya kecilkan.
Lalu terjadilah....
"Loh, Ibu, kenapa itu orangnya kok begitu?" tanya Alif sambil menunjuk ke cermin.
Ternyata memang di sebelah saya bersandar ada cermin.
Kok ya bisa-bisanya nemu cara begitu.
Akhirnya, selain menjauhi Alif, saya juga memutuskan untuk menjauhi cermin.
Besoknya....
"Wih, apa itu? Alif bisa lihat itu dari matanya Ibu!" serunya sambil nongol depan muka saya.
😑
Probolinggo, 23 Mei 2024.
Komentar
Posting Komentar