Ngabuburit
"Ibu, Alif main dulu, ya!" Alif berpamitan setelah selesai mandi dan sholat ashar.
Begitulah dia kalau sudah mandi. Berubah. Dari yang tadinya mengeluh lapar, jadi antusias main. Makin lama, puasanya makin kokoh, asalkan siang segera tidur dan bangun sewaktu ashar untuk segera mandi.
Sekitar jam lima, Alif pulang. Waktunya saya melayani segala pertanyaan yang tiap hari itu lagi itu lagi.
"Jam berapa ini, Ibu?"
"Masih lama, tah, Ibu?"
"Kurang berapa menit lagi?"
"Jamnya tak cepatkan saja, ya, Ibu? Kelamaan ini!"
"Ibu, kenapa kita harus selalu merasakan jadi orang miskin!"
Gak jauh beda, di rumah sebelah juga gitu. Om-nya Alif yang paling kecil, bahkan Mbah Kakungnya juga ribut nanyain soal jam dan menit ke Mbah Uti.
Mungkin karena lelah bertanya dan melihat langit mulai redup, Mbah Kakungnya Alif mulai kumat. Beliau yang biasanya azan di masjid, kali ini azan sendiri sambil duduk-duduk main hape di luar.
Apa enggak tetangganya ada yang nyeruput es nanti kalau gitu caranya.
Saya tahu betul, kakek-kakek menolak tua itu sedang mancing kerusuhan ke Alif.
Tahu sedang diprovokasi, Alif pun merespon.
Alif azan juga.
💆
Probolinggo, 26 April 2024.
Komentar
Posting Komentar