Make-Up


Masa-masa lebaran bagi saya adalah masa-masa rajin pakai make up. Biar ada progress peningkatan harga diri. Ketemu saudara-saudara dan tamu jauh setahun sekali haruslah berkesan baik, agar kenangan masa jamet dulu terkubur semakin dalam dan terlupakan. 

Alhasil, beragam peralatan tempur bergelimpangan di meja kamar. Dari yang lama tinggal penghabisan sampai yang baru beli. Saya berbahagia, Suami bertabah ria. Tak sepatah kata pun dia berkomentar, meski saya yakin betul dalam hati dia beristighfar. 

Sementara itu, sebaliknya, Alif bertanya terus-menerus, berulang-ulang, seolah mengambil jatah bicara yang dihemat-hemat ayahnya. Kalimatnya sih pertanyaan, tapi nadanya tuntutan. Sulit dia percaya dan menerima kelakuan satu-satunya makhluk beda gender di rumah. 

"Ini apa, Ibu?" tanyanya dengan template pertanyaan yang itu-itu saja pada setiap benda tak jelas yang dia temukan di kamar. 

Sementara saya, yang enggan memancing kerusuhan, hanya menjawab semua pertanyaannya dengan dua kata saja. "Untuk dandan."

Kesal dengan jawaban ibunya, anak enam tahun itu pun berseru tak terima. 

"Masa semuuuuaaaa ini, sama ini, ini, ini juga, sama satu kardus ini semuanya cuma untuk dandan?" pekiknya sambil menunjuk-nunjuk box make up ibunya. 

Alih-alih menjelaskan, saya hanya bisa ngakak tak berdaya. Belum kelar ngakak, datang sahutan dari si ayah yang sejak tadi menonton kelakuan anak dan istrinya. 

"Itu baru segitu. Alif tahu tukang? Alat-alatnya lebih banyak lagi. Satu kardus besar ndak cukup."

😑

Probolinggo, 23 April 2023.

Komentar

Postingan Populer