Mode Imam Masjid
Kemarin, ayah Alif menasihati saya soal anaknya supaya sholat di awal waktu. Bukan apa, dia kalau sholat suaranya keras macam speaker manten, sementara sholatnya mepet Ashar.
Memang, kemarin itu, gara-gara keduluan tidur siang, sholat zuhur nya melar sampai sekitar jam dua. Sebelum dinasihati si ayah, saya sudah tahu kelakuan anaknya dan sudah mengantisipasi.
"Alif, sholat Zuhur sama Ashar itu ndak keras-keras bacanya." Saya menjelaskan sambil memegangi badannya. Lagi mode gasing soalnya. Muter, nabrak, muter lagi. Muter, nabrak, muter lagi kayak mabuk kecap. Gitu terus sejak pagi. Pantes oleng.
"Iya." Gitu aja sahutannya.
"Ngerti, enggak?"
"Ngerti, Ibu."
"Coba tadi Ibu ngomong apa?"
Dia pun mengulang persis seperti yang saya katakan.
Sampai sini, saya udah bener, kan? Jelas banget, kan? Shahih, kan? Paten, kan?
Tapi apa daya, habis baca niat dan takbir ihram, dia langsung baca fatihah kenceng kayak imam tarawih.
Nah, siang ini, dia sudah bener sholat di awal waktu. Sholatnya di musholla rumah, sendirian. Saya lupa enggak menasihati ulang soal suara keras. Mode imam Masjidil Haram pun menggelegar.
Sampai pas dia baca surat pendek. Belagak. Pernah dulu dia gegayaan baca An-Naba'. Mbulet. Kali ini, baca Al-Maauun.
"Aroaital ladzii yukadzzibu biddiiinnnn.... "
Lalu hening lama. Diulang lagi, hening lagi. Ganti Al-Fiil.
"Alam taro kaifafa'ala robbuka biashhaabil fiilll.... "
Macet lagi. Mungkin karena mode imam masjid live jadi begitu. Biasanya dia hapal sampai Ad-Dhuha, tapi bacanya sambil lari maraton atau gasingan.
Kelamaan hening, saya jadi gemas. Dengan sekuat tenaga menahan diri agar tidak berteriak keras, saya hanya bisa menyahut lirih dari dalam kamar....
"Qulhu ae, Lek, suwen!"
Paiton, 21 Juli 2023.
Komentar
Posting Komentar