Nemo
Nonton bareng Alif atau bareng nenek-nenek itu nyaris enggak ada bedanya. Bawaannya saya pengen ngasih konsumsi saja biar acara nonton enggak berubah jadi sesi tanya jawab. Konsumsi obat tidur, misalnya.
Akhir-akhir ini, saya dan Alif berulang kali menonton Finding Nemo sambil nyetrika. Ya begitu, enggak ada tenang-tenangnya orang nonton. Ricuuuhhh terus. Padahal kami hanya berdua dan saya tak berbuat dosa sedikit pun.
"Ibu, itu ikan apa yang seperti keset warna merah itu?" tanyanya pada ... seharusnya Mbah Gugel, sih.
"Entah. Ibu tidak tau." Saya tipe apa adanya dan enggan nyari perkara. Enggak tahu ya sudah, tidak perlu ngarang atau sok tahu.
"Ibu harus tahuuu!" Dia ngotot. Ini film enggak di-pause, loh, dan dia masih freeze di situ. Saya ketinggalan beberapa adegan. "Ibu, kan, sudah besar, masa ndak tahu? Bu Guru selalu tahu, kok, kalau Alif tanya apa-apa!"
Seketika panasnya setrika nular ke jiwa.
"Ya enggak semua hal Ibu harus tahu! Ibu juga yakin Bu Guru pasti juga enggak tahu."
Entah kalau Pak Presiden.
Tapi apa peduli Alif? Dia merasa harus tahu data diri ikan gepeng klunyur-klunyur warna merah itu.
Begitu adegan Dori si ikan biru ngeselin muncul, Alif teralih. Mungkin inilah maksud dari pepatah 'Birumu mengalihkan duniaku."
Sepanjang 1 jam 41 menit 21 detik saya nyetrika sambil nonton, bukannya seneng karena ada hiburan, malah pening.
Akhirnya, film selesai, tapi setrikaan balum kelar dan saya sudah mau pingsan.
Malam hari menjelang tidur, di saat-saat paling ditunggu untuk melepas lelah, dengan sisa-sisa energi, saya mendengarkan sisa ujian hidup yang perlu dilunasi....
"Ibu, kok, ikannya ndak kedinginan, ya, di air terus?"
Probolinggo, 1 Juli 2023.
Komentar
Posting Komentar