Memperingati Isra' Mi'raj
Sebagai ibu saliha, di momen memperingati Isra' Mi'raj beberapa waktu lalu, saya menjelaskan kepada Alif tentang apa itu Isra' Mi'raj.
"Irsa' itu Nabi Muhammad diantar sama Malaikat Jibril dari Masjidil Haram di Mekkah, ke Masjidil Aqsa di Palestina sana." Saya menjelaskan dengan pelan, menggunakan bahasa sesederhana mungkin, dan bahkan menggunakan mainannya sebagai peraga.
Alif menyimak dengan takzim. Kalau hal cerita, memang dia paling suka. Meskipun....
"Oh, Masjidil Haram itu sepeda motor?" tanyanya sambil menujuk mainan sepeda motor yang sedang saya pegang. Saya pun istighfar dalam hati.
"Bukan gitu," elak saya, mulai pening. Gesrek dikit aja, kami bisa sesat bareng-bareng.
Setelah saya menjelaskan bahwa tadi itu hanya peraga saja, Alif tertawa kecil lalu kembali bertanya.
"Nabi Muhammad ke Palestina itu mau perang, tah, Ibu?"
Tetap tenang. Tetap logis. Sadari bahwa memang setiap anak berpotensi mendekatkan orang tuanya kepada Tuhan. Istighfar terooossss....
"Nah, kalau Mi'raj, yang tadi sudah di Masjidil Aqsa di Palestina itu, lanjut ke langit ketujuh, ke Sidratul Muntaha untuk menerima perintah solat. Setelah itu, baru kembali lagi ke Mekkah. Semua itu tadi, cuma semalam saja. Cepat sekali," jelas saya lega, merasa sudah menyelesaikan tugas mulia.
"Tapi, Ibu, cepat mana Nabi Muhammad sama Malaikat Jibril?" tanya Alif tanpa menyadari transformasi ibunya dari Bu Nyai menjadi Barongsai.
Dalam sekali tarikan napas, saya melepas emosi yang sejak tadi hitung mundur. "Memangnya Alif kira Nabi Muhammad sama Malaikat Jibril itu balapan apa? Ngepot-ngepot gitu? Kejar-kejaran?"
Alif ngakak sampai guling-guling.
Besoknya, sepulang dari acara Isra' Mi'raj di sekolah, Alif antusia bercerita kepada saya.
"Ibuuuu, sekarang Alif tahu apa itu Isra' Mi'raj. Itu ya, perjalanannya Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, terus ke langit ketujuh. Alif sudah tahuu, tadi Alif diajarin sama Bu Guru," jelasnya dengan napas ngos-ngosan.
Bukannya seneng, saya malah emosi. "Lah, bukannya tadi malam, kan, Ibu cerita sama begitu, kan? Ya itu yang tadi malam Ibu jelaskan ke Alif. Samaaaa, kannnn!?"
Lagi-lagi Alif ngakak sambil ngasih saya jajan. Ya udah saya diem.
Tapi rupa-rupanya, Alif masih gelisah soal kisah Isra' Mi'raj. Malamnya, menjelang tidur, dia menanyakan keganjalan hatinyanya kepada saya.
"Ibu, kenapa kok Nabi Muhammad harus jauh-jauh ke Masjidil Aqsa di Palestina? Kenapa ndak ke TK. Al-Ikhlas tempat Alif sekolah saja?"
😑
Probolinggo, 17 Februari 2024.
Komentar
Posting Komentar