Membaca Prediktif
Saya membuatkan cerita pendek anak untuk Alif. Ditulis di kertas dengan sedikit ilustrasi ala kadarnya. Semua hanya agar anak enam tahun itu lebih semangat belajar membaca. Karena kalau baca buku, bagi dia masih terlalu berat. Berat kontennya dan juga berat bawanya.
"Ceritanya harus yang lucu, ya, Ibu. Alif sukanya cerita lucu," pesannya sebelum saya mulai menulis.
Ealah, Nah, andai kamu sudah bisa baca tulisan Ibu di sosial media. Lagian, gaya banget maunya baca cerita lucu. Biasa juga bungkus jajan, kardus pasta gigi, baliho-baliho di jalan juga semua dibaca.
Setelah cerita sudah jadi, barulah saya tahu seberapa baik kemampuan membaca Alif. Mengejutkan. Alif bisa membaca dengan lumayan cepat dari pada terakhir kali saya memintanya membaca judul cerita. Hanya saja, dia pakai mode teks prediktif. Setengah membaca, sisanya halu.
Mode baca prediktif ini sebenarnya sudah diterapkannya sejak lama. Seperti waktu itu, di sebuah stasiun di Sidoarjo....
"Ibu, Alif bisa baca itu!" pekiknya di tengah keramaian stasiun.
"Hmmm, apa coba?"
"STA-SI-UN ... KE.... " Dia berhenti beberapa detik. "... KE-RE-TA!"
"Bukan!" Saya langsung gak terima. "Itu tulisannya Stasiun Kedatangan! Alif ngarang, ya?"
Dia pun ngakak tak berdosa.
Berikutnya, sewaktu saya mengajarinya membaca menggunakan buku belajar membaca. Di buku, tertulis nama binatang beserta cara bersuaranya.
"Kam-bing me-ngem-bik," bacanya pelan tapi benar.
"Ku-cing me-nge-ong," lanjutnya lebih cepat dan masih benar.
"Sa-pi me+nge-luh." Akhirnya dia sesat juga.
"Ngapain sapi mengeluh, Bro?" protes saya emosional. Sementara malah Alif ngakak lalu kembali membaca dengan baik dan tidak sesat.
Kalimat berikutnya....
"An-jing me-lo-long." Alif terkejut dengan bacaannya sendiri. "Loh, Ibu, kan, yang melolong itu serigala, kan?"
Saya yang enggak ikutan bikin buku itu pun jadi merasa bersalah.
"Kenapa kok sama orangnya ditulis anjing melolong, Ibu?" desak Alif, seperti sayalah yang harus bertanggung jawab atas isi buku yang dibacanya.
Akhirnya buku itu saya tutup dan tidak lagi membacanya Bisa repot urusan. Besok-besoknya, saya mengajak Alif membaca buku cerita anak saja meski tidak harus sampai selesai. Untungnya, Alif bersedia. Dia membaca dengan pelan dan tidak lagi setengah ngarang. Mode prediktifnya off.
Sayangnya, nasib saya enggak pernah off dari mode 'di luar prediksi'.
Di tengah-tengah Alif membaca, di paragraf kesekian, di tengah kalimat yang belum selesai, tiba-tiba terdengar Azan Isya.
"Ibu, coba Ibu lihat ini! Mana tangannya Ibu?" Dia menuntun jari saya menuju kata yang sedang dia baca. Perasaan saya enggak enak.
"Nah, Ibu pegangin ini dulu, ya. Yang Alif tunjuk tadi itu, jangan sampai geser. Pokoknya Ibu jaga, ya. Alif mau ke masjid dulu. Assalamu'alaikum!"
😳
Probolinggo, 17 Februari 2024.
Komentar
Posting Komentar