Bahasa Paus
"Kalau Alif jadi Nemo, berarti Ayah jadi ayahnya Nemo," cetus pemecah keributan pagi itu.
Saya yang kepo sebab gak diajak langsung caper. "Kalau Ibu, Ibu jadi apa? Jadi ibunya Nemo, kan?"
Hening. Tidak ada jawaban. Si Ayah lepas tangan, sementara Alif mencari pencerahan.
"Ibu jadi Dori saja!" celetuknya kemudian.
Padahal dia tahu betul di permulaan film itu tampak bapak dan emaknya Nemo. Kenapa malah saya jadi Dori? Jadi, selama ini dia anggap saya apa? Apakah saya ini ibu tiri?
Dori itu jauh banget dari saya. Enggak ada mirip-miripnya. Dia ikan, saya kaum rebahan. Dori cerewet, sok tahu, halu, pelupa, gak bisa dibilangin, ngeyel, ingin jadi penulis tapi enggan menulis....
Tapi Alif suka sekali sama Dori. Terutama adegan bahasa paus. Ketika sifat sok tahu dan halu terkombinasi, memang kelihatannya setengah gila.
"Aaaaaa ... HuuuuuuuuUuuuu ... Hiiiiigaaaaaaa ... ghguuuiuuuuuiiiiiiiieeooooooooooooooo."
Enggak jelas. Mungkin pas baru lahir dulu ayahnya kalau nge-azan-in kekencengen. Jadi gedenya begini.
Berkat adegan itu, Alif jadi lama sekali waktu mandi. Saya mendengar reka adegan kurang nalar itu versi lokal. Suara kecil Alif menggema-gema sampai ke dapur. Dan mandi dengan durasi ngalahin orang luluran itu tidak menghasilkan apa-apa. Wajah, rambut, punggung, semuanya kering.
Selain sewaktu mandi, adegan bahasa paus itu diulang-ulangnya juga seperti sound hajatan di berbagai kesempatan. Siang-siang, gabut enggak boleh main, kumat. Pas gunting-gunting, menggambar, atau mewarnai, gitu lagi. Bahkan pas main di luar juga kasetnya udah setelan otomatis.
Anehnya, enggak ada satu pun tetangga yang nanya kenapa dia begitu. Mungkin nunggu saya lewat dulu terus barulah nanya. Ya saya enggak lewatlah. Mending saya menggali jalur bawah tanah, ke gorong-gorong, terus nyalon jadi wali kota.
😑
Probolinggo, 12 Juli 2023.
Komentar
Posting Komentar