Sambutan
Setiap kali si ayah pulang, saya dan Alif selalu menyambut kedatangannya bersama. Hanya saja, beberapa hari yang lalu, cara Alif menyambut ayahnya agak lain.
Sebelum pulang, Suami mengabari seperti biasa. Tetapi kali itu ada pesan tambahan.
"Alif tidak usah diberi tahu dulu, ya, biar tidak menunggu-nunggu. Kalau dia ngantuk biar dia tidur," pesannya yang bikin saya tidak enak hati dengan anaknya.
Anehnya, meski saya tidak bilang kalau ayahnya akan pulang, Alif tidak kunjung tidur. Padahal sudah dibacakan cerita, dipijatin punggung dan kakinya, dan juga dibacakan surat pendek.
Menjelang jam sepuluh malam, akhirnya si ayah datang. Saya menyambut sebagaimana biasanya. Membuka pintu, tersenyum, lalu salim. Sedangkan Alif....
"Loh, Ayah!?" pekiknya terkejut setelah lompat dari kasur dan berlari keluar kamar. Kayak anak yang udah kangen banget sama ayahnya. Wajahnya berbinar-binar. Mata yang tadinya sudah menuju dua watt seketika kembali lima belas watt.
Sambil menyongsong ayahnya yang baru masuk, dia pun berteriak penuh kerinduan, "Jajaaaaaaaaaaaaaannnnnn!!!"
😆
Probolinggo, 30 Januari 2024.
Komentar
Posting Komentar