Pasar
Pasar di tempat saya tidaklah jauh. Pasar kampung yang tidak terlalu ramai dan tidak terlalu besar. Jaraknya sekitar 150 meter dari rumah. Biasanya saya jalan kaki. Kadang Alif ikut, tapi seringnya dia tidak saya ajak, mengingat upeti tak terduga yang kudu didapatkan bisa lumayan harganya.
Kadang saya sangat bersemangat ke pasar, kadang sedikit deg-deg-an. Beberapa kali malah cenderung malas-malasan. Lha wong masakan mateng saja murah. Masak sendiri malah lama dan ada kalanya tidak berhasil alias gagal.
Bersemangat, tentu saja, saat uang belanjanya lebih-lebih. Saya bisa belanja sambil merem, enggak ikut ngitung saat penjualnya notalin semua belanjaan, enggak ikut nimbang, eh, yang terakhir ini enggak ding. Saya ga pernah kepo ikutan nimbang. Biarlah itu tanggung jawab si penjual, saya yakin-yakin aja. Lha wong saya ga paham timbangan yang di pasar itu. Tahunya timbangan badan, timbangan digital, timbangan yang ada penunjuk jarumnya, sama neraca lengan-lenganan seperti di lab sekolah dulu. Kalau ada yang sulit, kenapa harus pilih yang mudah? Saya penganut setia paham ini.
Yang bikin deg-deg-an saat ke pasar, wah, buanyak. Namanya kampung, ke mana-mana bertegur sapa sama tetangga. Saya berangkat jam enam, ditanya, "Kok, pagi, Nduk?" Dan ternyata bener, sampai di pasar, pasarnya masih tutup. Hadeehhh.
Berangkat jam sepuluh, papasan tetangga, ditanya lagi, "Kok, siang, Nduk?" Bener lagi, sampai pasar, pasarnya sudah otewe buyar. Pasar kilat memang.
Tapi saya berangkat jam tujuh pun, delapan, sembilan, tetep aja ada yang nanyain entah kok pagi, kok siang, kok anaknya enggak diajak, kok menjinjing rok, kok enggak bawa keranjang, sampai pertanyaan basa basi paling basi, "Mau ke mana?" Saya jadi insecure, jangan-jangan salah kostum.
Belum lagi pas tahu-tahu harga naik, atau barang yang dicari enggak ada. Saya auto nge-hang. Itu berarti saya kudu me-reshuffle kabinet, eh, daftar belanja.
Di pasar, saya banyak mindernya, merasa kalah oleh ibu-ibu bermake up tebal dan gincu semerah darah. Lha saya polosan, persis anak ingusan nyasar. Awal-awal dulu, sering saya diakali penjual. Baru nanya harga, udah main timbang dan bungkusin aja. Lagi, ada penjual yang bilang barang yang saya cari ada, padahal dia enggak punya stoknya. Di depan saya, dia ngacir ke toko sebelah, membeli pesanan saya, lalu dijual lagi ke saya. Pulang-pulang saya nangis. Wkwk.
Soal harga yang diakal-akalin juga sering. Duh, yang ini saya capek dan males cerita.
Sekarang, saya sudah punya langganan sendiri yang insyaallah amanah soal harga dan timbangan. Bersamaan dengan itu, saya sudah berani dandan kalau ke pasar. Pakai lipstik merah dan alis ditebelin. Demi enggak kalah galak sama emak-emak lain. Bawa anak sekalian biar enggak dikira anak SMP lagi.
Beberapa hari yang lalu, saya melihat sendiri, ada pembeli yang ngambil barang sendiri, dikeresekin sendiri, dihargain sendiri. Saya liatin aja itu drama endingnya akan gimana.
Selain bawa ponsel buat memeriksa list belanja di note biar belanjaan enggak ada yang kelupaan, saya juga siaga jangan sampai ada keresek belanjaan yang ketinggalan di pasar. Sudah kapok soalnya. Pernah pas ketinggalan, saya balik ke pasar. Sambil cengar-cengir, saya permisi ngambil belanjaan yang tertinggal. Beberapa pembeli pun noleh, ibu penjual juga noleh. Meraka ketawa bareng sambil geleng-geleng. Ada satu nyeletuk, "Ancene sek bocah."
Dahlah, pasrah aja. Alhamdulillah masih kelihatan muda. Besok-besok saya akan bawa Alif saja. Biar orang tahu kalau saya bukan sekadar bocah.
Saya bocah yang punya anak bocah.
Lamongan, 13 Januari 2022.
Komentar
Posting Komentar