Kavalen



"Ibu, kapan Alif diajak jalan-jalan keliling lagi sama orang banyak?" tanya Alif, antusias.

"Lagi? Kapan?" 

"Iya. Yang Ibu cantik sekali itu, lho!"

Entah kenapa selalu begini, saya merasa terancam setiap kali dipuji cantik.

"Kan, memang, Ibu setiap hari selalu cantik!" Kumat. 

Enggak pa-pa merasa terancam, yang penting cantik!

"Iya, tapi waktu itu, kan, Ibu cantik sekali seperti putri!" Ini Alif yang ngomong, lho, bukan saya! Ehm. Ehm. Ehm!!!

Tapi, kapan, ya, saya cantik seperti putri? Sebelum-sebelumnya, sih, Alif pernahnya memuji saya secantik Melur, Geum Jan-Di, dan kuda poni. Yang terakhir ini agak tragis, memang. Padahal saya, kan, sebenarnya seperti Yoona. Ehm lagi.

Tapi enggak apa-apa. Asal judulnya cantik, meski seperti kentang, saya jabanin! 

"Yang kapan, sih, Nak?" Akhirnya saya nyerah juga setelah enggak mikir.

"Ibu ini! Kok, ndak ingat, sih? Yang Kavalen itu lho, Ibu!" Ini baru mukadimah.

"Hah? Kavalen?" 

Selanjutnya, tausiah. "Yang ada teman-teman pakai baju polisi itu, lho! Yang jalan ke mana-mana sampek capek, yang Alif dibelikan es itu. Besok-besok Alif mau pakai baju polisi juga, ya, Ibu, ya."

Akhirnya saya paham. Rupanya, dia senewen sebab dipakaikan baju adat jawa. Lha temanya pakaian adat, kok. Yang keliru itu justru teman-temannya.

Dan yang pasti, itu bukan kavalen, namanya.

"Ealah .... Itu namanya karnavalan, Mas Bro!"

Lamongan, 24 Januari 2023.


Komentar

Postingan Populer