Bekal Sekolah


Jelang pemilu 2024, hawa-hawa kampanye sepertinya menular ke Alif. Dimulai dari yang sebelumnya ingin bagi-bagi uang tabungan--uang yang semua lembarannya dua ribuan--ke para jemaah 'bapack-bapack' di masjid, kini berubah konsep menjadi bagi-bagi bekal sekolah ke teman-teman di kelas. 

Perkara bekal, meski kelihatannya sederhana, tapi sebenarnya ribet juga, mengingat saya yang enggak begitu pro sama chiki-chikian. Saya lebih memilih jajanan semacam donat, terang bulan, molen, atau seringnya roti panggang selai. 

Suatu malam, ada sekeluarga saudara jauh datang berkunjung. Mereka membawa tiga kotak besar pukis bertabur meses dan keju. Besoknya, karena masih sisa banyak meski sudah dimakan bersama sebelumnya, saya berniat menjadikannya bekal sekolah untuk Alif.  Hemat pangkal habis dialihkan buat beli yang lain. 

"Alif ndak mau! Ndak suka!" tolaknya terang-terangan. 

Memang sih, makanan itu kalau sedang berlimpah, agak berkurang sensasi menggiurkannya. 

"Ya terus maunya apa?" tanya saya. "Pokoknya ndak ada bekal chiki-chikian loh ya, ndak boleh sama Bu Guru."

"Rumput laut aja, boleh?" usulnya yang bikin saya nyengir. Lha gimana, rumput laut kemasan bergambar Rafatar itu isinya cuma selembar tapi harganya dua ribu. Bagi kaum mendang-mending, ini susah diterima. Dua ribu itu masih ada kembaliannya kalau buat beli Intermi. 

Setelah nego lama, dan kemauannya enggak bisa lagi ditolerir, saya akhirnya membeli rumput tipis tapi mahal itu di toko tetangga. Tapi begitu dia dapat yang dimau, pukis bertabur meses dan keju tadi dibawanya juga setengah lusin. 

"Alif mau berbagi ke teman-teman." Begitu alasannya. 

Kali berikutnya saya dilema perkara bekal lagi, ya gara-gara konsep 'berbagi' ini. Antara bersyukur dan kasihan sama anak sendiri. 

Pagi itu, karena saya khawatir Alif kelaparan di sekolah sebab pulangnya menjelang Zuhur, saya berencana membekali dia dengan nasi, tapi yang konsep makannya enggak ribet. Jadilah saya membuat sushi-sushian supaya dia senang sekaligus kenyang dan enggak pakai berantakan. 

Dengan semangat, saya membeli rumput laut Rafatar dua ribuan dan sosis siap makan. Bahagia banget pas ternyata isi rumput lautnya dapat yang dua lembar. Rezeki ibu shalihah. 

Dengan cermat dan hati-hati, saya membuat sushi-sushian berbentuk bulat. Nasi hangat dikepal-kepal, diisi sosis, lalu dililit rumput laut. Ribet, lama, tapi memuaskan. Jadilah delapan bulatan sushi ekonomis memenuhi kotak bekal yang hari itu ukurannya dua kali lebih besar dari biasanya. 

"Wah! Apa ini, Ibu? Bagus sekali!" puji Alif sambil towel-towel bulatan sushi sewaktu saya tunjukkan isi bekalnya. 

Dalam bayangan saya, dia akan makan bekalnya sampai habis, kenyang, dan bahagia. Pulang sekolah, bukannya menanyakan keadaannya, hal pertanyaan yang saya tanyakan adalah bekalnya. 

"Gimana? Enak? Suka? Habis?"

"Enak sekali, Ibu! Tapi Alif cuma makan satu," jawabnya santai sambil ganti baju. 

"Loh, kok bisa?"

"Alif bagikan ke teman-teman. Teman-teman semua kepingin."

😌

Probolinggo, 23 Januari 2024.


Komentar

Postingan Populer