Alat Musik



Saya kalau lagi capek, suka ngomong yang enggak-enggak ke Suami. 

"Mas, aku tuh kepingiiiiin banget bisa main alat musik. Satuuu aja ndak pa-pa." Curhat saya sekitar dua minggu yang lalu. 

Suami diam. Biasa memang kalau masih bab pembukaan begini, dia cuma menyimak. Karena tahu, menanggapi pun tidak ada gunanya. 

"Tapi, Mas, alat musik kan paling murah ya gitar itu ya. Ah ndak mau aku. Jariku sampai perih kena senar gitar. Lagian gitarnya Mas guede banget. Tenggelam aku kelihatannya kalau bawa itu. Eh, tapi Maudy Ayunda kan juga bisa main gitar, ya? Yah, kalau dia sih jarinya lecet dikit ndak pa-pa, wong ya gak mungkin cuci piring," lanjut saya membandingkan diri gak kira-kira. 

Suami masih diam. Dia menyimak, meski sikapnya udah kayak pengawalnya Ratu Inggris. Saya nari hula-hula juga belum tentu ada progres. 

Tapi meskipun begitu, saya masih semangat melanjutkan mengeluh dan menghalu.

"Kan enak, gitu, kalau bisa main piano, misalnya. Tangan enggak pedih, tinggal pencet-pencet doang. Atau biola aja deh, kayak keren gitu kelihatannya. Mainnya bener-bener pakai penghayatan tinggi. Tapi mahal-mahal ya, Mas? Kata Mas, piano itu mahal sekali, ya?"

"Kalau mau pencet-pencet, ndak harus piano. Ada orgen." Akhirnya Suami pensiun jadi pengawal Ratu Inggris. 

"Terus aku jadi pemain orgen tunggal, gitu? Nanti nyanyinya di hajatan, gitu?" sahut saya tak terima. "Kenapa sih alat musik ndak ada yang murah. Palingan cuma gitar. Itu sih pengamen juga punya."

"Tidak juga." Dia menanggapi cepat-cepat. Seperti ingin segera membenarkan persepsi sesat istrinya. "Ada banyak yang lebih murah dari gitar."

Bagai dihembus angin segar, saya semangat bertanya kelanjutannya. "Apa, Mas? Apa alat musik yang lebih murah?"

"Ada kendang...." Dia menyebut kandidat pertama. 

Saya meleyot. Kenapa ujung-ujungnya ke hajatan dangdut lagi. Saya kan maunya yang klasik gitu. Yang berbau orkestra. Biar elegan, sesuai kepribadian diri. Ehm. 

"Ada seruling.... " Kandidat kedua. 

Sampai sini saya mulai merasa jadi siluman ular  dari Prindavan. Tapi itu belum ada apa-apanya dibandingkan pilihan ketiga yang menggugurkan seluruh ekspektasi terhadap keeleganan diri. 

Diiringi senyum semringah dan antusiasme tinggi, dia menawarkan opsi terakhir yang kayaknya menggambarkan seluruh presentasi image saya di matanya. "Atau yang satu lagi ... yang bunyinya ecek-ecek itu, yang biasanya ada krincing-krincingnya, yang ditepuk-tepuk itu."

😌

Probolinggo, 31 Desember 2023.

Komentar

Postingan Populer