Karakter Terpendam
Saya sebenarnya tipe orang yang baik, normal, dan lurus-lurus saja. Gambaran standar wanita jawa yang kalem dan berwibawa. Ehm.
Akan tetapi, jalan hidup membuat saya begini.
Sore itu, misalnya. Saya dengan keeleganan seorang Puteri Indonesia sedang menyetrika. Duduk dengan kaki rapat dan sopan. Pakaian yang sudah dijemur saya semproti pengharum.
Semua disetrika. Dari kerudung, kaos kaki, sampai pakaian dalam. Saya kurang sudi memakai barang yang belum dielus-elus besi panas. Kurang steril, menurut saya pribadi.
Sedang syahdu-syahdunya, mendadak terdengar sebuah suara.
"Ibu, kenapa kalau Indonesia sedang ada acara, kok rakyat disuruh bangun semua?"
Saya tertegun. Setrika panas saya letakkan, lalu bertanya memastikan kepada pemilik suara tadi.
"Apa? Coba ulangi lagi! Alif tanya apa barusan?"
Dia pun mengulangi pertanyaan tadi. Ternyata saya tidak salah dengar.
"Maksudnya gimana? Indonesia ada acara? Rakyat disuruh bangun? Indonesia itu kan bukan orang! Rakyat siapa pula yang disuruh bangun?" Berderet-deret pertanyaan semi omelan saya luapkan.
"Itu lho, Ibu, yang di lagu 'Bangunlah jiwanya. Bangunlah badannya'. Kenapa badannya disuruh bangun?" cerocosnya cepat. Terlihat tidak terima dengan respon ibunya.
Dengan menggebu-gebu saya berusaha menjelaskan dan memutar otak bagaimana agar anak ini bisa mengerti dalam bahasa paling sederhana. Sedikit disabar-sabarkan. Saya membuat parafrase kilat tentang kiasan dan pilihan kata tak biasa (dalam koleksi bahasa Alif) dari bait-bait lagu Indonesia Raya.
Setelahnya, saya lanjut menyetrika dengan ekspresi penyanyi rock metal, gaya duduk kuli bangunan makan siang di warung, dan semangat pahlawan perjuangan.
Merdeka!
Lamongan, 1 Desember 2022.
Komentar
Posting Komentar