Genteng Bocor



Siang itu, saya lagi sibuk-sibuknya berdiskusi sama Suami. Kami berada di dekat jendela kecil yang menghadap ke tembok batas wilayah tetangga. Lagi rebutan mau naik ke genteng. 

"Udah, aku aja! Aku kan kecil, jadi muat masuk jendela ini. Nanti tinggal naik ke atas tembok, terus tinggal nata genteng. Gampang itu, gampaang!" desak saya ke laki-laki yang ternyata enggak muat di jendela. 

"Apanya. Situ kan badannya besar, nanti malah gelundung!" Dia nyengir. 

Entahlah. Saya ini dari dulu terkenal kurus. Tapi suami kayak selalu melihat saya pakai kaca pembesar. Dan itu real mindsetnya. Saya yang ukuran M, kalau lebaran tiba dia belikan gamis ukuran XL. 

"Mana ada? Aku ndak gemuk, ya!" Ngotot dong saya.

"Ya tapi gendut," jawabnya sambil lalu. 

Saya percaya Suami ini orang baik. Dia pasti gak ada niatan body shaming. Melainkan body framming. Jelas sekali dia berencana menggelonggong istrinya dengan sugesti dan brainwashing. 

"Enak aja!" Saya ikutin dia ke belakang hanya demi pembelaan diri tersampaikan. "Segendut-gendutnya ya gak sampai gelundung juga dong!"

Sayangnya, pembelaan diri itu jadi salah alamat. Bukannya ngomong dengan nada komplen, tapi malah sambil cekikikan karena membayangkan adegan saya gelundung. 

Akhirnya, setelah numpang lewat di halaman tetangga, genteng pun berhasil diperbaiki. Ternyata enggak ada yang rusak. Hanya berantakan karena sering jadi arena tanding kucing-kucing tetangga tak berakhlak. 

Tapi begitulah nasib, jalannya hampir selalu tak terduga. Setelah genteng diperbaiki, enggak ada tuh hujan deras. Gerimis aja kayak sungkan mau turun. Tabiatnya persis kayak tamu yang gak mungkin datang kalau pas rumah rapi. 

Lalu tibalah giliran Alif mengeluh, "Huuh! Kenapa kok panaas terus, ya? Setiap hari panas sekali!"

Bahasa singkatnya sih mau minta beli es. 

Tapi si ayah nangkapnya lain. Keadaan ini rupanya relate banget dengan perasaannya. 

"Iya, sudah tiga hari gak hujan-hujan," sindirnya sambil melihat ke atas. 

Saya otomatis ngakak. "Yahahaa! Yang baru benerin genteng! Hahahahahahahahaha."

Siang itu saya ketawa heboh sendirian. Sementara dua laki-laki itu lempeng. 

"Udahlah, Mas. Nanti kalau Mas sudah berangkat lagi, baru deh hujan! Hahaha." Saya masih belum puas bercandain ayah Alif. 

Saya sih bercanda, tapi Tuhan serius. 

Besoknya, setelah ayah Alif berangkat, hujan turun dengan lebat. 

😆

Probolinggo, 29 Desember 2023.

Komentar

Postingan Populer