Bacaan Mengaji
Saya sering pening kalau dengar adik bungsu saya dan teman-temannya mengaji. Anak jaman sekarang kalau ngaji bukannya khidmat malah banyak cengengesannya. Mereka, terutama adik saya, sedang di fase puncak kealayan yang bisa memicu kesurupan.
Awal-awal sih enak, pas yang ngaji anak tetangga belakang rumah. Ngajinya simpel. Enggak dilagu-lagukan. Makhraj dan tajwidnya bagus. Suaranya sederhana, adem, dan tenang. Alami banget. Enggak wah tapi syahdu.
Giliran yang kedua, anak tetangga lainnya yang rumahnya agak jauhan. Ngajinya pakai cengkok dan mendayu-dayu Melayu. Melayu lari, maksudnya. Kepeleset di nada tinggi dan hilang kendali di nada rendah. Mirip saya.
Tapi itu masih mending dari pada anak ketiga nan tak tahu diri. Mungkin maksudnya dia biar berasa murottil-murottil profesional. Dia tiru segala lagu, cengkok, dan vibrasinya. Berasa ahli karena dulu sewaktu kecil banget pernah menang lomba qira'ah lokal. Tapi itu sudah seratus tahun yang lalu sebelum dia tercemar.
Dialah adik bungsu saya yang malang. Dengan penuh takzim, kadang sampai merem juga karena yang dibaca sekadar An-Naba' jadi dia sudah hapal, dia membaca surat pembuka juz tiga puluh itu dengan gaya pendaki hipotermia yang kena pneumonia. Suaranya bergetar persis kakek-kakek uzur.
Dengar dia ngaji, bukannya adem saya malah bawaannya emosi. Ini kalau buat ngeruqyah, jin-nya keluar bukan karena fadilah bacaannya tapi memang kesiksa aja sama suaranya. Semoga dia segera kembali ke nada yang lurus dan gak banyak gaya.
Probolinggo, 29 Desember 2023.
Komentar
Posting Komentar