Telur



Sekitar satu bulan terakhir, Alif banyak sekali bertanya soal telur. Di antaranya.... 

"Ibu, panda itu bertelur atau melahirkan?" 

Pertanyaan level satu. Easy. Tidak memicu tawuran. 

"Ibu, telur puyuh itu kenapa ada banyak jembret-jembretnya? Apa itu kotorannya ayam? Apa yang bertelur itu ayamnya kecil?"

Pertanyaan level dua. Medium. Infinity War. 

Dan inilah level Endgame.... 

"Alif, ini, Mbah Uti punya telur. Buat Alif sarapan, ya." Pagi itu, langit baru terang, ibu saya datang mengantar telur. 

Meskipun acuan bicaranya adalah Alif, tapi penerima telurnya adalah saya. Joki dadakan. 

"Ada apa kok pagi-pagi ngasih telur mentah, Buk?" tanya saya dengan nada enggak terima, tapi tangan tak seirama.

Dengan sangat legowo saya menyahut tiga butir telur dari Ibu. Dasar anak terlalu berbakti.

"Tadi Ibu dikasih telur sama tetangga, telur ayamnya sendiri." Ibu menjelaskan. 

"Oh, tapi kok kayak bukan telur ayam kampung?"

"Lho iya, memang dari ayam petelur, tapi dipelihara sendiri."

"Hah? Maksudnya? Berarti ini telurnya bisa menetas, gitu? Gak obatan kayak di peternakan, Buk?"

"Ya bisa, wong itu alami, campur sama ayam kampung biasa, saking jenisnya saja ayam petelur."

"Berarti, ini ayamnya yang biasa lari-lari di belakang itu?"

"Iyaa."

Saya pun manggut-manggut meski tetep aja rasanya kurang wajar. Untung mbah utinya Alif sabar. Ini kalau orang lain, mungkin enggak jadi ngasih. 

Selesai sesi wawancara dan terima kasih, saya menutup pintu dan berniat segera melanjutkan aktivitas rutin di pagi hari. Tapi belum sempat menaruh telur, saya keduluan jurnalis cilik yang kalau nanya nyaingi Najwa Shihab. 

Sungguh karma berlaku instan. 

"Ibu, mana lihat telurnya yang dikasih Mbah Uti!" Alif melongok ke telur yang masih saya bawa. 

"Niiiiihhhh!" Saya sodorkan biar puas. 

"Ini telurnya bisa menetas, Ibu?" tanyanya polos. 

Alamat gak beres ini. Pertanyaan ambigu penuh ranjau. Tapi ya sudahlah, saya jawab sekeluarnya saja dari mulut.

"Iya."

Semoga ini jawaban yang tepat. 

"Wah! Jangan dimasak, ya, Ibu!"

"Lah, kenapa?"

"Alif mau lihat telurnya menetas! Dari duuuulluuuu sekali, Alif itu ndak pernah lihat telur menetas!"

Jangankan Ente yang hidup baru enam tahunan. Ane yang sudah menjelang kepala tiga aja enggak pernah lihat langsung ayam menetas! 

"Ya ndak bisa, Bro. Telur itu ya harus sama induknya kalau mau menetas. Harus dierami."

"Oh, kenapa harus dierami?"

"Biar hangat."

Bener tho, jawaban saya? Secara sains gitu kan? Gini-gini saya ikut kelas Olimpiade sains lho dulu. Meskipun tetep aja saya enggak ngerti duluan mana telur sama ayam. 

"Kenapa harus sama induknya?" Alif masih aja nanya. 

"Ya iyalah! Memangnya kenapa? Alif mau mengerami telurnya, hah?" Saya mulai sableng. 

Tapi dasar buah pohon jauh dari tak jatuh.... 

"Iya! Alif mau! Hua-ha-ha!" pekiknya riang, lalu ketawa-tawaan sambil menjauh. 

"Oiiiiii! Maaaaaariiiii sini Kauuuuuuuuuuuuuuuu!" 

🔥

Probolinggo, 14 November 2023.


Komentar

Postingan Populer