Ritual Kebahagiaan
"Nah, selesai. Sana, bilang ke Ayah!"
Saya baru saja selesai memandikan Alif, membantunya memakai pakaian, meminyaki dada, perut, dan punggungnya, juga menyisir rambut hitam kecoklatannya.
Segera dia pun berlari menemui ayahnya di ruang kerja, lalu berseru riang. Seruannya meriah, menelusup setiap sudut rumah.
"Ayah, Alif sudah ganteng!" Begitu dia melaporkan diri.
"Wah, iya, sudah ganteng."
Biasanya adegan ini berakhir cubit-cubitan, roket-roketan, atau sayang-sayangan jika ayahnya sedang tidak usil.
Selalu begitu, setiap hari, setiap sehabis mandi. Rutinitas yang sampai saat ini tetap terasa membahagiakan meski sudah diulang ratusan kali. Saya, Alif, dan ayahnya senantiasa melakoni peran kami yang itu-itu saja tanpa bosan. Asal dia bahagia. Betapa mewahnya berbahagia atas hal-hal monoton yang bahkan tak perlu dibeli ini.
Lamongan, 13 November 2021.
Komentar
Posting Komentar