Interupsi
Selepas azan Ashar tadi, saya mengomel panjang ke anak bujang satu itu. Entah sudah berapa hari saya gagal membuatnya tidur siang.
Adaaa aja yang bikin gagal segala persiapan saya agar dia tidur siang. Mulai dari alibi yang masuk akal seperti tiba-tiba ada yang nawarin layangan, sampai yang paling enggak bisa masuk di akal saya yang sudah sekolah selama empat belas tahun.
Yaitu pas Alif enggak bisa tidur meski sudah dibeberin kasur di ruang tamu yang lega dan lebih luas, dengan kipas angin kecepatan helikopter, perut kenyang, lampu dipadamkan, dan alunan murottal Syaikh Mishari Al-Efasi yang adem. Sedari Zuhur sampai Ashar, sedikit pun dia enggak merem.
Mungkin besok-besok setelan murottalnya pakai yang pilihan bacaan ruqyah saja kali ya.
Padahal bagi saya, itu sudahlah godaan terbesar yang menggoyahkan iman. Jangankan dengan layanan VIP begitu. Sekadar nyentuh kasur aja saya bisa langsung pindah alam.
Karena itulah saya enggak mau nemenin Alif buat tidur siang. Nanti bukannya nemenin, yang ada malah saya yang tidur, sementara Alif sudah blusukan kayak kader partai.
"Ibu harus gimana lagi biar Alif tidur siang. Berapa kali Ibu ngomong tapi ndak dikerjakan. Kapaaaaan Alif itu yang gampang gitu kalau Ibu nyuruh tidur. Dari kemarin, susaahh sekali cuma disuruh tidur aja kok. Makanya--"
Belum lunas segala unek-unek, orasi saya dipotong.
"Sebentar, sebentar," ucap Alif sambil kedua telapak tangannya diarahkan ke saya. Dia baru saja selesai wudhu dan berganti celana panjang.
Iya, sejak tadi saya ngomelin anak yang bukan lagi diem, tapi aktif ke sana kemari bersiap sholat.
Dengan wajah datar, suara tegas dan jelas, persis ayahnya, dia berkata, "Ibu, diam dulu, Alif mau sholat dulu."
😳
Probolinggo, 15 November 2023.
Komentar
Posting Komentar