Ibu yang Bersalah
Ibu yang Bersalah
Saya sedang merasa bersalah kepada si kecil. Padahal dia sudah mencoba berkomunikasi dengan baik, tapi saya malah tidak bisa mengimbangi.
"Ibu, celana dalam Alif masih ada?" Begitu dia bertanya hati-hati.
"Kenapa?"
"Celana dalamnya Alif masih ada?" tanyanya lagi.
Sengaja tidak saya jawab langsung melihat gayanya yang gelisah. Saya mencoba menebak apa yang terjadi. "Alif pup di celana?"
"Mboten."
"Lalu?"
"Alif ngompol." Dia mengakui.
Saya bisa melihat bagaimana dia mencoba bicara tanpa isakan. Tapi saya lihat celananya masih baik-baik saja. Saya kira dia baru opening ngompolnya. Sejujurnya, saya mulai emosi. Sejak tadi saya sudah menawarkan diri untuk mengantarnya ke kamar mandi. Bukan sekali dua kali. Tapi dia menolak. Mungkin keasikan bermain, jadi tidak merasa.
"Cuma sedikit, Ibu." Dia menjelaskan. Masih terlihat tenang. Atau menenang-nenangkan diri.
Saya tahu, saya peka bahwa dia berusaha menyampaikan dengan baik, tanpa menangis. Sayangnya, saya sedang tidak mudah menerima mengingat antisipasi saya sebelumnya.
"Kan kita ada kamar mandi. Buat apa ada kamar mandi kalau pipis di celana?" Mulailah saya mengomel panjang.
Anak empat tahun itu pun terisak.
Hati saya tersentil. Saya ajak dia ke kamar mandi. Saat melepas celana dalamnya, ternyata kering. Dia hanya banyak berkeringat karena aktif bermain. Saya semakin merasa bersalah. Dalam diam, saya mengantarnya BAK.
Setelah semuanya selesai, setulus hati saya meminta maaf atas respon tidak baik tadi. Kami membuat perjanjian agar dia langsung bersedia jika saya tawari BAK lagi ke depannya. Kami berbaikan, meski saya tahu dia sama sekali tidak marah kepada saya, justru malah dia yang banyak memulai percakapan.
Saya diam. Masih dengan rasa bersalah yang berusaha saya terima. Semoga tidak akan pernah pudar rasa sayangnya kepada saya, juga saya kepadanya.
Lamongan, 13 Desember 2021.
Komentar
Posting Komentar