CALEG
Beberapa kali terakhir, setiap saya dan Alif mampir ke Alfa Midi di ujung gang, kami selalu ribut di rak mainan.
Swalayan sekarang makin ke sini makin brutal. Dompet emak-emak shalihah terancamnya udah enggak sekadar di rak Kinderjoy depan kasir aja. Melainkan udah merambah ke barisan rak yang berderet-deret di area utama.
Mau enggak mau, saya jadi punya konsep peta khusus rute aman dan rute terlarang dalam pikiran, hanya demi bisa belanja dengan sentosa tanpa kena pajak tambahan.
Tapi rupanya Alif sudah hapal peta itu lebih dulu. Rute terlarang menjelma menjadi destinasi wisata favorit. Setelah salam di pintu masuk, biasanya kami langsung berpisah arah.
"Ibu, robot ini berapa harganya?" tanyanya kepo saat saya memastikan keberadaannya.
"Enam puluh ribu," jawab saya, jutek.
"Uang Alif cukup, ndak, yang tabungan di dompet itu?"
"Uang Alif masih lima puluh ribu, Nak. Kurang sepuluh ribu," jelas saya ogah-ogahan.
Lama kami di depan rak terlarang itu. Alif pengen banget beli, sementara saya enggak sudi soalnya yakin banget itu di toko oren harganya enggak sampai lima puluh ribu.
Meski begitu, akhirnya kami berhasil pulang dengan selamat bersama perjanjian damai yang menyatakan bahwa Alif harus bersabar menabung sedikit lagi.
Tapi uang itu bukannya nambah, malah berkurang separuh karena dia tergoda mainan Ultraman Zero di toko oren. Lalu setelah beberapa hari berlalu dan uangnya mulai banyak lagi, dia kembali oleng.
"Ibu, uangnya Alif sudah berapa?" tanya Alif sembari memasang kaus kaki. Ceritanya dia sudah mau berangkat sekolah.
"Empat puluh delapan ribu."
"Wah, banyak sekali!"
"Iya, Alif pinter, ya, sudah berusaha menabung."
"Ibu, boleh ndak uangnya tak bawa ke sekolah?" tanyanya, mancing kerusuhan.
"Heeeeeeeyyy, ya ndak boleh! Kata Bu Guru ndak boleh bawa uang ke sekolah."
"Kan, Alif nanti mau berbagi uang ke teman-teman."
"Kenapa begitu?"
"Biar teman-temannya Alif senang!"
"Tapi, kan, sama Bu Guru ndak dibolehin bawa uang, kan?"
"Oh, gimana kalau uangnya dibawa ke masjid saja kalau nanti Alif ke masjid?"
"Kenapa dibawa ke masjid?"
Saya pikir mungkin dia mau beramal di kotak amal, tapi ternyata jauh banget dari prediksi....
"Mau Alif bagi-bagikan ke mbah-mbah yang ada di masjid, yang suka sama Alif itu!"
Di sini saya mulai ngakak. Teringat bapak-bapak di daerah sini yang sedang nyalon jadi DPR bakal punya saingan berat. Beliau dibantu didanai partai, sementara anak saya pakai dana pribadi. Alif, meskipun uangnya sedikit, tapi komitmen dan tekad serangan fajarnya tinggi, seolah duitnya enggak kalah banyak dari ketum partai sebelah.
Tapi saya kepo dong, kenapa kok targetnya mbah-mbah.
"Kenapa mbah-mbah? Tahu dari mana kalau mbah-mbah itu suka sama Alif?"
Percayalah, ini ngomongnya susah banget. Kesembur-sembur tawa brutal. Meski begitu, dijawabnya juga pertanyaan gak mutu dari saya itu.
"Kan, selalu, setiap Alif sholat di masjid, ada banyak mbah-mbah yang senyum-senyum sama Alif, terus bilang pinter karena sholatnya Alif bagus."
Eaaaaaaaaa
Ya udahlah, mau gimana lagi kalau itu sudah pilihan hati para veteran kehidupan.
Dengan ini, saya selaku ibu dari calon ketua DPRD Kota Probolinggo mengucapkan selamat memasuki era baru politik kaum muda. Soal usia janganlah dipermasalahkan. Bagaimanapun juga, kasih sayang orang tua akan terus menyertai sejak dari buaian sampai Mahkamah Konstitusi.
🤦♀
Probolinggo, 16 November 2023.
Komentar
Posting Komentar