Bermain Peran (2)



Mungkin karena mumpung ayahnya lagi dirumah, sore itu, Alif mengajak si ayah dan juga saya untuk bermain bersama. Bener memang kata orang, kalau punya anak itu jangan nanggung. Jangan satu demi satu. Minimal sekali lahir langsung dua. Biar kelak mereka main bareng, orang tuanya bagian nonton aja. Soalnya kalau cuma satu ya begini, saya kebagian jadi penghibur juga. 

Jadi, acaranya adalah bermain peran. Ayah Alif tahu banget kalau anaknya sedang suka banget sama Ultraman. Satu-satunya tokoh yang saya enggak suka. Agak gimana gitu saya lihatnya, ada mahluk kok seperti manusia tapi pakaiannya ketat banget ga ada syar'i-syar'i-nya. Enggak warna-warni juga. 

Karena tahu banget itulah, bapak-bapak satu itu pun memancing, "Ayah jadi Ultraman, ya. Alif jadi monster saja." 

Kontan Alif enggak terima. Anak waras mana yang mau jadi tokoh antagonis. 

"Ndak mauuuu! Alif maunya jadi Ultraman saja!" Dia mengultimatum, lalu menoleh ke saya. "Kalau Ibu, Ibu mau jadi apa?"

Mungkin dia berharap saya bersedia menumbalkan diri jadi monster. Jangan harap, Bro! Jadi Ultraman aja saya enggak mau, apa lagi jadi monster. 

Pada akhirnya, mau tidak mau, pokoknya si ayah harus jadi monster kalau mau drama ini ada alurnya. Sementara saya menemukan peran yang cocok sekali sama hobi sehari-hari.... 

"Ibu? Oh, gimana kalau Ibu jadi gedung saja? Kan enak, disenggol monster, Ibu tinggal terguling saja, disenggol Ultraman, Ibu juga tinggal terguling saja!" 

Probolinggo, 10 November 2023.

Komentar

Postingan Populer