Amplop Kesayangan 2
Entah kenapa niat baik saya tak seindah ekspektasi. Kenapa pulalah saya iseng memperpanjang urusan amplop yang makin hari makin bikin senewen. Iya, benar, Alif sekarang jadi senang sekali mengumpulkan uang. Tapi efek sampingnya benar-benar meresahkan.
Beberapa waktu lalu, saat Mbak petugas Regsosek (Registrasi Sosial Ekonomi) datang berkunjung, Pemegang Tahta Amplop Kebesaran beraksi.
Waktu itu memang hanya ada kami berdua di rumah. Namanya anak-anak, Alif ikut 'menyambut' tamu. Saya yang tidak curiga apa pun, meninggalkan keduanya di ruang tamu untuk mengambil minumam kemasan gelas.
Lalu terdengarlah dengan lantang, suara itu ....
"Seribu, dua ribu, lima ribu ...."
Allahu Akbar!
Dia pasti sedang menghitung isi amplopnya di depan tamu.
Ya Salaamm ....
Cepat-cepat saya kembali ke ruang tamu dan mengambil alih keadaan, lalu mempersilakan untuk memulai sesi wawancara soal aset dunia. Halah.
Saya mengalihkan perhatian Mbak petugas dan pura-pura tidak kenal dengan anak kecil itu. Kami--saya dan Mbak Petugas--berusaha serius berlaku selayaknya, seprofesional mungkin. Tapi tetap saja, ada yang muter-muter sambil mengibas-ngibaskan, melambai-lambaikan, dan menjajar-jajarkan lembaran uang di sekitar.
Berkali-kali ditegur, Alif malah makin getol. Saya sungkan stadium akut, tapi gengsi mau nge-barongsai disaksikan orang tak dikenal.
Aha! Dia tidak kenal saya, kan?
Baiklah, cuek saja. Wong, ya, nggak kenal ini. Aib ini akan hilang ditelan tumpukan data orang-orang. Pasti. Yakin. Dia lama-lama akan melupakan tragedi ini. Semoga anak-anak orang lain lebih absurd lagi. Aamiin.
Lalu tiba saatnya saya ditanya soal luas bangunan, NPWP, dan hal-hal rumit lainnya. Terpaksa menelpon Suami dan memintanya pulang.
Tidak lama kemudian, Suami datang.
Dan ternyata mereka kenal.
Ternyata dia mengenali saya sebagai guru anaknya dan beberapa keponakan-keponakannya juga.
O-oke, b-ba-baiklah kalau demikian adanya.
Lamongan, 9 November 2022.
Komentar
Posting Komentar