Wedang Jeruk Nipis
Wedang jeruk nipis sudah menjadi minuman yang wajib ada setiap hari di rumah, bahkan di bulan Ramadan. Hanya saja, meminumnya setelah makan kurma--jika tersedia--dan minum air putih, mengikuti urutan kesunnahan berbuka.
Hampir setiap hari saya membeli jeruk nipis di pasar. Tidak langsung banyak, karena memang ingin selalu dapat yang baru. Lama-lama, ibu penjual penasaran juga.
"Buat apa, toh, Nduk, kok, setiap hari beli jeruk nipis?" tanyanya.
"Buat wedang, Bu."
Lalu saya pun menjelaskan khasiatnya sebagaimana yang saya ketahui dan rasakan. Ternyata memang banyak yang salah kaprah soal ini. Banyak yang menganggap jeruk nipis dapat memicu asam lambung, padahal buah ini sifatnya basa. Ada banyak terapis yang menerapkannya untuk penyembuhan. Akan tetapi, semua bisa saja kembali kepada keyakinan setiap orang. Obat yang sama dari dokter yang berbeda saja bisa berbeda kemanjurannya.
Cara membuat wedang jeruk nipis pun terbilang sangat mudah. Cukup menyeduh air perasan jeruk nipis menggunakan air hangat. Hindari menyertakan biji jeruk karena rasanya pahit. Dan yang paling penting, tanpa gula, sebagaimana anjuran suami saya.
"Supaya maksimal khasiatnya, tidak usah dikasih gula, ya," pesannya kala itu.
"Siap, Bos," jawab si istri saliha.
Seperti biasa, pada sepuluh menit terakhir menjelang buka puasa, saya memeras jeruk nipis, menuang air hangat, dan menyajikannya di atas tikar tempat kami biasa berbuka sambil lesehan. Dua gelas minuman sehat dan segar siap dinikmati.
Sebagai istri saliha, saya melaksanakan instruksi Suami tercinta. Saya berikan yang terbaik untuk anak dan Suami, lalu kembali ke dapur, menambahkan dua sendok gula pasir pada gelas saya sendiri. Untuk saya sendiri cukup yang baik saja. Tidak apa-apa. Saya sejak dulu memang suka mengalah.
😊
Lamongan, 25 April 2022.
Komentar
Posting Komentar